Bangga Memakai Atribut Non Muslim
Nasehat

Bangga Memakai Atribut Non Muslim

Posted On Oktober 27, 2016 at 2:23 pm by / No Comments

Bangga Memakai Atribut Non Muslim
Bangga Memakai Atribut Non Muslim

Simbol Kemajuan Zaman

Sebuah fenomena yang terjadi di masyarakat muslim di sekitar kita saat ini yaitu berbangga dengan memakai atribut yang berbau kebarat-baratan atau atribut non muslim.

Berapa banyak dari kalangan remaja muslim di sekitar kita yang mereka lebih suka terhadap atribut yang ia anggap simbol kemajuan zaman. Dan ternyata atribut tersebut adalah atribut yang mencirikan agama non Islam. Atau minimalnya atribut tersebut adalah ciri dan simbol-simbol maksiat.

Sebut saja logo salib terselubung, baik di logo klub bola, atau logo pemusik, penyembah setan dan selainnya. Tak lupa berbagai macam bentuk pakaian dan gaya kebarat-baratan yang notabene berasal dari non muslim. Rok mini, bikini, celana ketat, dan selainnya. Menjadi sebuah konsumsi gaya yang dianggap sebagai simbol kemajuan zaman.

Hingga karena hal seperti ini sudah banyak akhirnya menjadi lumrah dan tidak menjadi sebuah perkara yang harus diingkari dan diluruskan.

Dan sebaliknya, karena racun budaya, gaya hidup, dan atribut kebarat-baratan  ini sudah menjangkiti kaum muslim di sekitar kita. Sehingga kita temui justru anggapan miring, nyinyiran, bahkan pelecehan di lancarkan kepada kaum muslim yang berpenampilan dengan atribut yang Islami.

Seperti wanita muslimah yang memakai gamis, jilbab panjang dan bercadar, pria yang memakai celana cingkrang, pria yang memakai sarung, memakai baju koko, pria memakai baju gamis, dan sejenisnya dianggap sebagai orang yang aneh. Dari sebutan ketinggalan zaman, kuno, kampungan, sampai-samapai teroris. Begitu juga nyinyiran dengan nada meledek yang menganggap kebiasaan berbusana ini adalah kebiasaan orang Arab, sehingga tidak layak dipakai dinegeri kita Indonesia ini.

Sadarlah Saudaraku

Sadarlah saudaraku. Jika anda anggap pakaian yang menutup aurat bagi wanita itu kampungan, budaya Arab. Jika anda anggap pakaian gamis untuk laki-laki itu kuno dan tidak sesuai dipakai di negeri kita.

Maka ingatlah pakaian ketat yang sering anda lihat, bikini, celana jeans compang-camping, kaos dengan logo-logo non muslim, logo-logo kefajiran, itu bukanlah berasal dari negeri ini. Gaya hidup tersebut adalah hasil adobsi dari gaya hidup orang luar dari negeri yang katanya maju sehingga ketika masuk di negeri kita ini dianggap sebagai simbol kemajuan zaman.

Jika anda anggap yang menutup aurat itu tidak layak, jika anda anggap yang memakai pakaian yang mencerminkan ke Islaman ini berasal dari budaya luar, tidakkah anda tahu bahwasannya Islam itu turun di Negeri Arab kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau adalah orang Arab?

Mengapa anda begitu benci dengan hal yang berbau Arab? Padahal agama Islam ini turun di Arab, Nabi kita berasal dari suku di Arab?

Bukankah jika seandainya baik sebuah kebiasaan itu, maka tidaklah menjadi masalah bagi kita untuk mengadopsi dan memakainya. Sementara jika bidaya itu adalah budaya rusak justru harus kita tinggalkan.

Namun mengapa malah justru kita ambil dan anggap biasa budaya barat yang merusak dan kita perangi budaya Islam yang katanya budaya Arab untuk tidak di pakai di negeri ini?

Padahal menutup aurat itu bukanlah syariat hanya untuk orang Arab. Dan memakai gamis, jilbab panjang serta cadar itu bukan hanya di syariatkan untuk orang Arab. Karena agama kita ini turun untuk seluruh alam. Termasuk kita yang berada di Indonesia yang telah memeluknya.

Maka jangan anti dengan agama dengan mengatasnamakan budaya.

Ada baiknya sebelum berbicara dan komentar kita pelajari dahulu apa yang akan kita ucapkan. Apakah sudah sesuai dengan faktanya, atau hanya berlandaskan sikap apatis kita terhadap agama sehingga apa yang kita anggap tidak sesuai dengan nafsu serta merta kita tentang dan kita caci.

Mudah-mudahan ini dapat menjadi nasehat bagi kita semua. Agar lebih memahami agama ini dari sumbernya. Bukan menafsirkan agama dengan akal dan syahwat kita. Namun tafsirkanlah agama sebagaimana yang telah di tafsirkan oleh para ulama yang memahami agama. Wallahu a’lam.

Admin
www.RumahBelanjaMuslim.Com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *