Bekal Kehidupan Akhirat

Bekal Kehidupan Akhirat

Bekal Kehidupan Akhirat

Bekal Semasa Kecil

Kita melihat orang – orang di sekitar kita. Betapa banyak di antaranya yang begitu giat, begitu semangat dalam mempersiapkan bekal kehidupan nya di masa tua. Hingga hampir – hampir habis semua waktu kehidupan dunia ini untuk mempersiapkan bekal kehidupan di masa tua.

Orang tua yang sedari kecil mengarahkan anaknya untuk sekolah di sekolah yang bergengsi, sekolah teladan, memacunya untuk selalu juara di bidang dunia. Bahkan tidak lupa sedari TK pun anak sudah di masukkan ke dalam bimbingan – bimbingan belajar umum agar dapat melampaui anak – anak pada masa nya dari segi kemampuan.

Setelah selesai sekolah TK, masuk SD, SMP, SMA sampai kuliah selalu di kejar dengan target juara. Tujuan nya apa ? Agar nantinya mudah mencari kerja, atau bahkan di cari pekerjaan.

Hingga dengan kesibukan ini, tidak heran pada pemuda di usia belajar di perguruan tinggi pun banyak dari pemuda muslim ini tidak bisa membaca Al-Quran dengan benar dan lancar.

Tidak heran, hal ini terjadi. karena memang sedari kecil kebanyakan fokus tujuan yang dibentuk orang tuanya adalah fokus menyiapakan bekal kehidupan dunia, dan bukan bekal kehidupan akhirat.

Bekal Di Masa Tua

Setelah selesai belajar di perguruan tinggi, lulus bergelar sarjana, magister, bahkan doktor, mereka bekerja, dan terus mempersiapkan bekal di hari tua.

Padahal belum tentu juga ia kelakpun akan memasuki hari tua nya. Bisa jadi ia meninggal sebelum hari tua. Sementara bekal kehidupan akhirat setelah ia meningal belum sempat ia persiapkan.

Dengan kenyataan seperti ini yang banyak terjadi di negeri kita. Maka tak heran kalau sampai ada semboyan, muda foya foya, tua kaya raya mati masuk surga. Karena memang fokus utama dalam kehidupan adalah pada dunia. Sehingga ilmu tentang kehidupan akhirat sangat tipis.

Akhirnya banyak diantara kita yang tidak tau bagaimana cara meraih surga. Yang ada semua hanya impian atau pepesan kosong tanpa upaya. Dan tujuan utamanya hanyalah kesenangan belaka. Walaupun kesenangan itu berupa mimpi nan semu.

Bekal Hidup di Dunia VS Bekal Kehidupan Akhirat

Jika kita sedikit menggunakan analogi dunia kita kepada khidupan akhirat, maka tentu sekarang ini kita menyadari. Bahwasannya tidaklah sebuah tujuan itu dapat tercapai oleh kita tanpa di mulai dengan usaha.

Maka dalam perkara dunia saja kita sangat menyadari, bahwasannya setiap keberhasilan itu harus di raih dengan kerja keras. Sehingga kita liat banyak orang tua yang melatih anak nya untuk bekerja keras belajar untuk meraih kesuksesan kehidupan dunia.

Jika pehamanan ini di terapkan dalam perkara akhirat, tentu setiap kita akan menyadari, betapa orang – orang yang menginginkan surga itu banyak yang mengharap dengan pepesan kosong saja. Ia ingin masuk surga namun tidak mau dan tidak menjalani jalannya, yaitu jalan menuju surga.

Upaya kerja keras untuk meraih surga itu seperti di acuhkan di abaikan. Ia banyak kerja keras untuk dunia, sementara ia lalai dengan bekal kehidupan akhirat nya.

Sehingga banyak dari kita yang dalam mencari dunia ini melanggar larangan larangan syariat. Riba, ghohor, dzolim, dan hal yang haram lainnya bahkan kesyirikan pun di tempuh untuk meraih bekal hidup dunia.

Lalu dengan keadaan seperti ini, maka tentu sebuah angan – angan kosong saja seorang hamba berharap surga. Sementara kehidupannya hanya di dominasi tujuan dunia dan lupa akan bekal kehidupan akhirat.

Kehidupan Dunia vs Kehidupan Akhirat

Bagi seorang muslim kehidupan itu bukanlah pada kehidupan dunia. Karena kehidupan yang sesungguhnya adalah kehidupan akhirat.

Ia hidup di dunia ini ibarat musafir yang sedang dalam perjalanan. Dan dalam perjalanan ini membutuhkan bekal yang banyak. Karena perjalanan itu sangat panjang dan terjal.

 

Maka siapa yang tertipu ketika hidup dunia, ia akan merasakan kesedihan yang panjang dalam kehidupan sebenarnya kelak di akhirat.

Mari kita cermati bagaimana Allah ta’ala membuat perumpamaan kehidupan dunia ini,

Perumpamaan kehidupan dunia itu hanyalah laksana air (hujan) yang Kami turunkan dan langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak.

Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasasinya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin.

Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir.” (QS Yunus: 24)

Sekilas dunia itu nampak indah menarik dan mempesona. Membuat orang – orang yang tertipu berambisi meraihnya. Namun ternyata tidaklah keindahan dan kenikmatan dunia ini akan terasa ketika ia telah memasuki kehidupan akhirat.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Didatangkan (di hari kiamat) orang yang paling menikmati dunia, dari kalangan penduduk neraka, lalu dicelupkan ke dalam neraka dengan satu celupan. Ditanyakan kepadanya, ‘Hai anak adam, apakah kamu melihat kebaikan sedikit saja? Apakah kamu merasakan kenikmatan sekecil pun?’ Ia menjawab, ‘Tidak,demi Allah, wahai Rabb-ku.’

Dan didatangkan orang yang paling merasakan kepedihan ketika di dunia, dari kalangan ahli surga, kemudian dicelupkan pada kesenangan (surga). Ditanyakan kepadanya, ‘Apakah Anda meraskan kesusahan sedikit pun?Dan apakah Anda merasakan kesulitan sekecil pun?’ Ia menjawab, ‘Tidak, demi Allah, wahai Rabb-ku. Sedikit pun aku tidak mersakan kesedihan, tidak pula kesusahan sekecil pun.’ (HR. Muslim dan Ahmad).

Berbekalah Untuk Kehidupan Akhirat

Maka wahai saudaraku. Jangan sampai kita tertipu dengan kehidupan dunia ini.

Mari mulai dari sekarang kita persiapkan bekal kehidupan kita di ahirat kelak.

Jangan sampai kita lupa, jangan sampai kita lalai. Tujuan utama kita adalah akhirat. Maka fokus dan upaya terbesar kita hendaknya pada usaha usaha yang dapat membuahkan kebahagiaan kelak di kehidupan yang sesungguhnya yaitu kehidupan Akhirat.

Mari kita berbekal sedini mungkin. Dan sebaik baik bekal adalah bekal ketaqwaan.

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hasyr 18)

Admin | www.RumahBelanjaMuslim.Com

Tinggalkan Balasan