Bukber dan Reuni Masalahkah
Nasehat

Bukber dan Reuni Masalahkah?

Posted On Juni 18, 2016 at 2:25 am by / No Comments

Bukber dan Reuni Masalahkah
Bukber dan Reuni Masalahkah

Sebuah tradisi dan kebiasaan yang banyak di lakukan oleh saudara-saudara kita di bulan ramdahan adalah kebiasaan buka bersama sekaligus reunian. Tujuan awal dari acara ini kebanyakannya adalah untuk menjalin ukhuwah, temu kangen, ramah tamah, dan sejenisnya.

Namun yang perlu di cermati lagi, utamanya di bulan yang penuh ampunan ini apakah acara-acara bukaber reunian tersebut sejalan dengan aturan syariat. Apakah di dalam acara tersebut sudah di setting sedemikian rupa sehingga tidak terjadi hal-hal yang melanggar Agama.

Tentu kita sepakat, buka bersama itu tidak ada larangannya di dalam Islam, begitu juga reunian, menjalin ukuwah, menjalin persaudaraan dengan sesama muslim. Namun dalam acara yang baik ini ada beberapa hal yang hendaknya di perhatikan dan di waspadai agar acara bukber dan reunian berjalan baik tanpa dibarengai dengan maksiat. Beberapa hal tersebut diantaranya,

  • Campur baur

Campur baur / ikhtilath antara laki-laki dan perempuan merupakan sebuah perkara yang sering terjadi yang hendaknya setiap muslim mewaspadai dan menghindarinya. Hal ini banyak diabaikan oleh saudar muslim di sekitar kita. Mereka mungkin lebih mementingkan kebahagiaan bercanda bersama kawan lama ketimbang memperhatikan larangan syariat Islam. Atau mungkin di dalam pemehamannya terdapat syubhat.

Maka mari kita perhatikan, jika kita di dalam sholat saja antara laki-laki dan perempuan itu harus di pisah, maka bagimana jika kegiatan itu selain sholat dan hanya majelis ngobrol dan ramah tamah? Tentu hal ini lebih wajib lagi untuk dipisahkan antara keduanya.

Dan ternyata larangan bercampur baur ini banyak hadits yang menjelaskannya. Diantaranya adalah hadits dari Uqbah bin aamir radhiallahu ‘ahnu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Janganlah kalian masuk ke tempat para wanita!” Seorang pria dari kaum Anshar berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana hukumnya kalau dia adalah saudara ipar?” Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Saudara ipar sama dengan kematian” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dan benarlah jika larangan ikhtilath ini tujuannya salah satunya adalah menjaga kehormatan seorang muslim. Kita lihat dari beberapa kejadian yang berawal campur baur baik dalam acara bukber, reuni, atau sejenisnya yang akhirnya berujung pada perselingkuhan, perzinaan, dan sejenisnya.

Maka bagi setiap suami, setiap laki-laki perhatiakan pergaulan istrimu, perhatikan pergaulan saudarimu. Jagalah mereka dari berbagai macam fitnah yang mungkin terjadi padanya. Peliharalah ia dengan sebaik-baik penjagaan.

Begitujuga bagi para wanita, para istri, ingatlah akan batasan batasan yang telah Allah berikan kepada kita. Jangan sampai dari acara yang awalnya kita kehendaki kebaikan padanya namun di karenakan tidak memperhatikan batasan Allah justru menjadi jurang kebinasaan bagi kita.

  • Menjaga pandangan

Salah satu perkara yang wajib diperhatikan oleh setiap muslim ketika berkumpul-kumpul baik reuni, buka bersama atau selainnya adalah menjaga pandangan. Pentingnya menjaga pandangan ini karena ia merupakan salah satu panah dari panah-panah syaiton yang siap menembus dan meracuni hati setiap muslim yang tidak mampu menjaganya.

Maka setiap muslim yang ingin selamat hatinya dari berbagai macam racun, fitnah, hendaknya ia selalu menjaga pandangannya dimanapun ia berada.

  • Tidak memperhatikan waktu sholat

Kita sepakati bersama, salah satu hak Allah yang wajib kita tunaikan sebagai seorang muslim adalah Sholat tepat pada waktunya. Maka bagi setiap muslim yang ingin melakukan reuni dan bukber bersama kawan-kawan hendaknya perhatian terhadap hak Allah yaitu sholat. Hukum sholat itu wajib pada waktunya, sementara hukum kumpul-kumpul, ngobrol, bukber dan sejenisnya adalah mubah. Maka jangan kalahkan yang wajib dengan perkara yang mubah.

  • Melalaikan tarawih

Di bulan ramdhan ini banyak di mimbar-mimbar, di ceramah-ceramah disampaikan hadits yang berkenaan amalan ibadah di bulan ramadhan yaitu sholat tarawweh. Kita dapati di awal-awal ramdhan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terus melaksanakan sholat di masjid hingga beliau khawatir jika beliau terus menerus sholat tarawih di masjid akan di anggap sholat tarawih di masjid ini menjadi wajib sehingga beliau meninggalkannya beberapa hari.

Lalu di zaman ini, tentu sudah tidak ada penghalang lagi bagi kita. Sholat tarawih di masjid ini merupakan sebuah keutamaan. Maka jangan sampai kita terlewat sholat taraweh di masjid yang ketika menyelesaikan nya bersama Iman maka kita sudah seperti sholat sepanjang malam, dan hal ini dikalahkan hanya dengan perkara yang mubah yang ngobrol-ngobrol di acara bukber yang terkadang karena terlalu banyak berbicara dapat terjerumus dalam perkara yang dilarang.

  • Berlebihan dalam bercanda

Ketika bertema dengan shabat lama, kawan lama tentu kita akan betah berlama-lama mengobrol bersama mereka ketika acara reuni dan juga buka bersama. Berbagai macam topik tema di bicarakan, berbagai macam candaan di lontarkan. Namun bagi setiap muslim hendaknya menahan dirinya untuk tidak berlebihan dalam canda. Khususnya candaan yang dusta. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Celakalah bagi yang berbicara lantas berdusta hanya karena ingin membuat suatu kaum tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

  • Ghibah

Terkadang karena keasyikan mengobrol kesana kemari bersama sahabat maka kita tidak sadar mengambil tema ghibah dalam perbincangan. Maka tentu hal ini harus dijauhi oleh setiap muslim.

  • Saling berbangga dengan harga

Hal ini disadari atau tidak disadari banyak terjadi diantara kita. Ketika bertemu dengan orang lain, berkumpul-kumpul maka terkadang secara tidak sadar kita membanggakan diri kita atas apa yang menjadi prestasi dunia kita. Perkara seperti ini hendaknya dapat dihindari oleh setiap muslim. Karena dengan hal ini dapat mengakibatkan sifat ujub, berefek hasad dari orang dan bahkan dapat memutuskan tali ukuwah diantara sesama muslim.

  • Lihat ke atas

Terkadang ketika aca acara perkumpulan, kita dapati beragam kesuksesan yang di dapat oleh teman lama kita. Ketika kita melihat hanya kepada mereka yang diberikan kecukupan rizki, tingkat ekonomi yang diatas, maka hal ini dapat mengakibatkan kita tidak mampu bersyuur atas pemberian Allah ta’ala. Maka perhatikanlah kepada siapa kita memandang. Perhatikan Nasihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Dzar al Ghifari berikut,

Dari Abu Dzar Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Kekasihku (Rasulullah) Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepadaku dengan tujuh hal: supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka, beliau memerintahkan aku agar aku melihat kepada orang yang berada di bawahku dan tidak melihat kepada orang yang berada di atasku, beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahmiku meskipun mereka berlaku kasar kepadaku, aku dianjurkan agar memperbanyak ucapan lâ haulâ walâ quwwata illâ billâh (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah), aku diperintah untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit, beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah, dan beliau melarang aku agar tidak meminta-minta sesuatu pun kepada manusia”. (HR. Ahmad dan lainnya)

  • Dll

Allahu a’lam

Fanspage RUMAH BELANJA MUSLIM
Akun FB RUMAH BELANJA WHYLUTH
www.RumahBelanjaMuslim.Com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *