Cadar Budaya Arab

Cadar Budaya Arab
Cadar Budaya Arab

Cadar adalah budaya Arab. Sehingga memakai cadar tidak mempengaruhi kualitas keimanan. Mungkin kalimat ini yang bisa menjadi kesimpulan dari ucapan – ucapan yang beredar belakangan ini, dari kalangan awam, terpelajar, bahkan elit nya.

Pertanyaannya, benarkan cadar adalah budaya Arab ? Apakah orang Arab dari zaman dahulu sudah mengenakan cadar seperti yang kita kenal saat ini ?

Untuk menjawab hal ini, maka kita merujuk kepada salah satu Ayat di dalam Al-Quran, yaitu tepatnya dalam Surat Al-A’raf ayat 28.

وَإِذَا فَعَلُوا۟ فٰحِشَةً قَالُوا۟ وَجَدْنَا عَلَيْهَآ ءَابَآءَنَا وَاللهُ أَمَرَنَا بِهَا

Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: “Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya” (QS. Al-A’raf : 28)

Ayat ini diturunkan bagi orang-orang musyrik yang dahulu thawaf mengelilingi ka’bah dengan telanjang karena mengikuti nenek moyang mereka, dan mereka mengaku bahwa mereka diperintahkan oleh Allah untuk melakukan hal itu. Padahal keburukan yang dilakukan oleh nenk moyang mereka tidak menjadikan mereka boleh juga untuk melakukannya, dan Allah juga tidak pernah memerintahkan kepada mereka untuk berbuat keji, namun Dia memerintahkan mereka untuk mengikuti jejak para Nabi dan beramal dengan kitab-kitab yang telah diturunkan-Nya serta melarang mereka menyelisihinya. (Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram, via tafsirweb.com)

Perhatikan tafsir ayat yang kami tebalkan. Di sebutkan kebiasaan orang Arab Jahiliyyah dahulu adalah thawaf di ka’bah dalam keadaan telanjang. Dan ini mereka lakukan karena mengikuti apa yang telah di lakukan oleh nenek moyang mereka.

Artinya kebiasaan ini, kebudayaan inilah yang mereka ikuti semenjak dahulu kala. Yang diikuti sampai di zaman jahilyah.

Yang kemudian Islam datang, melarang perbuatan tersebut. Yang ini di tunjukkan dalam kelanjutan ayat.

قُلْ إِنَّ اللهَ لَا يَأْمُرُ بِالْفَحْشَآءِ

Katakanlah: “Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji”) Maka bagaimana bisa kalian mengaku bahwa itu merupakan perintah-Nya

Maka jangankan memakai cadar. Kita dapati bangsa arab jahiyah dahulu mereka tidak menutup aurat dengan benar. Bahkan memiliki kebiasaan thawaf di ka’bah dalam keadaan telanjang.

Kemudian Islam datang, turunlah ayat – ayat tentang perintah untuk menutup aurat, memakai jilbab, ayat – ayat larangan tabarruj (bersolek) bagi wanita muslimah.

Artinya sebelum datang ayat – ayat perintah menutup aurat tersebut, sebelum datang ayat larangan bersolek. Asalnya mereka dahulunya tidak menutup aurat, sehingga di perintah untuk menutup aurat. Asalnya mereka dahulu bersolek, kemudian di larang dari bersolek (tabarruj).

Jadi sekarang tentu jelas. Anggapan cadar adalah produk budaya Arab itu adalah sebuah kesalahan besar. Bertentangan dengan fakta yang ada dalam keterangan nash syariat.

Jika mereka dahulu sudah terbiasa pakai cadar, terbiasa menutup aurat. Maka mengapa Allah masih memerintahkan mereka menutup aurat. Allah memerintahkan menutup aurat itu karena memang awalnya kebudayaan yang di kenal di masa itu adalah kebudayaan yang belum menutup aurat dengan benar.

Bahkan para Ulama sejak zaman dahulu sudah membahas permasalahan memakai cadar bagi muslimah ini. Yang pendapat para ulama Rabbani berkisar antara apakah cadar itu memakainya adalah wajib atau sunnah mustahabbah.

Jadi minimalnya jika memakai cadar adalah sunnah mustahabbah, maka ini adalah perbuatan yang baik yang bernilai pahala.

Setiap seorang yang melakukan amal kebaikan, amal ketaatan, maka ia telah merealisasikan salah satu bentuk taqwa.

Semakin dia beramal ketaatan semakin tingkat ketaqwaan nya betambah. Semakin ia berbuat taat semakin tinggi imannya. Dan begitu juga sebaliknya.

Maka salah besar jika di katakan memakai cadar tidak ada kaitannya dengan kualitas taqwa.

Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita semua. Aamiiiin.

Admin Rumah Belanja Muslim.Com

This entry was posted in Nasehat.

Tinggalkan Balasan