Hakikat Kehidupan Dunia Adalah Persiapan Untuk Perpisahan
Renungan

Hakikat Kehidupan Dunia Adalah Persiapan Untuk Perpisahan

[caption id="attachment_2235" align="aligncenter" width="1280"]Hakikat Kehidupan Di Dunia Hakikat Kehidupan Di Dunia[/caption] Sesungguhnya hakikat kehidupan di dunia ini adalah sebuah waktu untuk kita mempersiapkan perpisahan kita dengan orang - orang yang kita cinta. Ketika awal kehidupan, mungkin kita belum terbayang bagaimana kita harus berpisah dengan orang tua kita yang merawat kita, kita banyak membutuhkan keduanya dalam berbagai urusan. Setelah dewasa dan menikah, mungkin kita belum terbayangkan bagaimana kita bisa berpisah dengan istri tercinta seabagai pasangan hidup kita. Begitu juga setelah kita memiliki buah hati, maka mungkin sangat jauh angan kita untuk membayangkan perpisahan dengan buah hati tercinta. Namun sebagai seorang hamba, yang semua makhluk tunduk terhadap ketetapan-Nya, perpisahan dengan hal hal yang kita cintai tersebut PASTI akan kita alami, akan kita rasakan, pasti akan terjadi. Mau tidak mau, kita harus siap untuk bertemu dengan masa masa perpisahan tersebut.

Persiapan Perpisahan

Maka sebelum itu semua terjadi, sebelum waktu perpisahan ini menemui kita. Hendaknya setiap muslim selalu mempersiapkan waktu waktu terakhir ini. Agar perpisahan yang kita rasakan di dunia ini tidaklah menjadi sebuah perpisahan yang kekal. Dengan harapan kelak Allah tabaraka wa ta'ala akan mengumpulkan kita bersama orang - orang yang kita cintai di akhirat, di Surga-Nya kelak. Sebagai seorang bapak, seorang Ibu, seorang anak, hendaknya bersama kita memperisapkan perpisahan kita kelak. Yaitu persiapan dengan membangun Taqwa di dalam keluarga. Seorang bapak yang selalu mengajar, mengarahkan, keluarga ke jalan yang lurus sesuai syariat Islam. Seorang bapak selalu mengingatkan terhadap kesalahan kesalahan yang ada di keluarganya. Seorang bapak yang di dalam dirinya terdapat rasa cemburu terhadap kemaksiatan yang terjadi di dalam keluarganya. Hingga ini cegah semua itu karena kasih sayangnya kepada keluarga. Begitu juga seorang ibu, sebagai manager rumah tangga, ia bertanggung jawab terhadap pendidikan anak anaknya. ia bertanggung jawab terhadap pengaturan rumah tangganya. Hingga ia tidak akan biarkan anak-anaknya terlantar, terlibat dalam pergaulan bebas, jauh dari ibadah. Dan seorang ibu hendaknya selalu mengarahkan anak anaknya dengan kasih sayang menuju kepada jalan Allah ta'ala. Dan juga sebagai seorang anak, hendaknya kita penuhi hak hak orang tua. Kita berbakti kepada meraka, kita patuhi dan kita selalu ajak mereka dalam bimbingan agama yang lurus. Jangan sampai ketiga unsur dalam rumah tangga ini sampai berjalan sendiri sendiri, tanpa ada pengajaran, tanpa ada nasehat. karena diantara tanda kasih sayang seseorang kepada yang lainnya adalah adanya nasehat. Jika tidak ada nasehat di dalam keluarga, berarti hampir di pastikan kasih sayang di dalamnya adalah kasih sayang yang semu. Yang ini semua dapat mengarahkan kita kepada perpisahan yang sesungguhnya hingga di akhirat. Tentu kita tidak ingin perpisahan ini menjadi perpisahan yang selamanya. Kita ingin dikumpulkan kembali bersama keluarga dan orang orang yang kita sayangi kelak di akhirat. Maka hendaknya setiap kita mempersiapkan hari hari perpisahan ini semenjak dini.

Hakikat Kehidupan Di Dunia Adalah Berbekal

Sesungguhnya hakikat kehidupan di dunia ini adalah tempat berbekal. yaitu waktu bagi seorang hamba untuk menyiapkan bekal amal sholehnya menuju akhirat agar selamat di jauhkan dari neraka dan di masukkan ke dalam surga. Jangan pernah menyia nyiakan waktu perbekalan ini. karena kelak ketika waktu perpisahan itu tiba, maka selesai sudah waktu berbekal bagi kita. Yang tersisa adalah waktu pertanggung jawaban. Maka jangan biarkan waktu itu terbuang sia sia tanpa berisi amal yang dapat mendekatkan kita kepada Surga. Karena sesungguhnya setiap waktu ini pasti akan dimintai pertanggung jawaban kepada kita.

Jangan biarkan penyesalan itu datang di hari perhitungan. Karena tidak ada guna penyesalan di hari Perhitungan.

  Admin www.RumahBelanjaMuslim.Com
Read More
Dampak Negatif Membuka Aurat
Renungan

Dampak Negatif Membuka Aurat

Membuka Aurat Adalah Perbuatan Tercela

Membuka aurat merupakan sebuah perbuatan yang tercela bagi siapa saja, baik laki-laki maupun wanita dewasa.

Di dalam agama sudah jelas pelarangannya. Baik laki-laki atau wanita di larang keras melakukan perbuatan buka-bukaan aurat. Termasuk di dalamnya perbuatan tabarruj / mejeng / bersolek bagi wanita. Banyak ayat-ayat di dalam Al-Qur'an dan Hadits yang menjelaskan pelarangan perbuatan ini.

Bahkan dari jika kita melihat kebiasaan adat budaya ketimuran di negeri kita saat ini. Maka kita akan mendapati perbuatan membuka aurat bagi wanita maupun pria merupakan sebuah perbuatan yang tidak layak dilakukan. Perbuatan membuka aurat ini dianggap sebagai perbuatan yang tidak lazim dan tercela.

Berbeda dengan adat kebarat-baratan, yang mereka biasa menampakkan auratnya baik pria maupun wanita. Memakai bikini, rok mini bukanlah perkara yang aneh dalam budaya mereka.

Jika perbuatan seperti ini di lakukan di negeri kita, maka orang tua di kalangan kita akan otomatis mengingkari perbuatan ini dan menganggapkan tercela dan tidak sesuai budaya.

Maka kita dapati perbuatan membuka aurat ini tercela baik di pandang dari sisi Syariat Islam, maupun dari segi budaya.

Membuka Aurat Bagi Wanita 

Jika kita menyebutkan kalimat membuka aurat, maka dalam kalimat ini kebanyakan kita fahami perbuatan ini berkaitan dengan perbuatan seorang wanita.

Dan dimaklumi bahwasannya di hari ini kita mendapati seorang wanita yang membuka auratnya lebih banyak daripada seorang pria yang membuka aurat. Namun bukan berarti pria yang membuka aurat ini sedikit saja jumlahnya. Karena pada kenyataan laki-laki yang membuka aurat ini juga cukup banyak, baik di sengaja maupun tidak sengaja.

Sebut saja para pemaian bola misalnya, yang hampir di setiap daerah ada laki-laki yang bermain bola. Kita dapati pakaian yang mereka pakai ini kebanyakannya menampakkan aurat yang harusnya di tutupi. Kebanyakan pemain bola ini mekai celana olah raganya dengan panjang diatas lutut.

dengan banyaknya pria yang membuka aurat ini ternyata tetap lebih banyak kaum wanita yang membuka aurat. Bahkan banyak wanita yang membuka aurat ini di sebabkan faktor sengaja. Entah ingin tampil cantik, seksi, emnarik, ataupun karena tuntutan kerja.

Di jalan-jalan, di tempat umum, pasar, akntor-kantor, tempat wisata, bahkan di tempat-tempat ibadah seperti masjid pun tidak akan terlepas pandangan kita dari wanita yang membuka auratnya dengan sukarela.

Padahal jika kita lihat dari kenyataan, perbuatan membuka aurat bagi seorang wanita ini tidaklah terlepas dari berbagai macam dampak negatif yang mungkin terjadi.

Dampak Negatif Membuka Aurat

Jika di timbang-timbang dan dibandingkan, ternyata antara manfaat dengan mudhorot / dampak negatif membuka aurat seorang wanita ini, kita akan dapati bahwasannya akan lebih besar mudhorotnya ketimbang manfaat.

Dampak negatif seorang wanita membuka aurat ini juga ternyata bukan hanya di rasakan oleh diri wanita pelakunya sendiri. Namun juga hal ini akan berdampak kepada orang lain, baik orang-orang disekitarya, keluarga, bahkan jika ia beragama Islam dapat berimbas kepada agama yang ia anut.

Jadi secara garis besar, dampak negatif membuka aurat bagi seorang wanita itu bisa kepada dirinya sendiri, kepada keluarganya (Orang Tua), kepada anak-anaknya, kepada saudarinya, kepada laki-laki yang melihatnya, bahkan kepada agama Islam yang dia anut jika ia seorang muslimah.

Insyaa Allah mengenai perincian beberapa dampak negatif membuka aurat diatas kami sampaikan dalam tulisan berikutnya. Wallahu a'lam.

Admin www.RumahBelanjaMuslim.Com 

Read More
Kebiasaan Baik dan Kebiasaan Buruk
Renungan

Kebiasaan Baik dan Kebiasaan Buruk

[caption id="attachment_905" align="aligncenter" width="632"]Kebiasaan Baik dan Kebiasaan Buruk Kebiasaan Baik dan Kebiasaan Buruk[/caption]

Kebiasaan merupakan hal yang terkadang di sadari atau tidak di sadari merupakan sebuah standar bagi seseorang dalam menilai. Terkadang sebelum menilai sebuah hal, sebuah perkara, sebuah kejadian itu baik atau buruk berdasarkan timbangan yang benar maka kebanyakan di kita menimbangnya dengan standar kebiasaan, apakah hal tersebut sesuai dengan kebiasaan setempat ataukah tidak sesuai. Ketika suatau hal, perkara, kejadian, itu sesuai dengan kebiasaan yang biasa terjadi dan dilihat oleh seseorang maka tentu hal pertama yang muncul dalam timbangan adalah itu adalah hal yang baik, biasa, tidak aneh, tetapi jika hal tersebut tidak lazim di pandangan seseorang maka serta merta dalam hati akan memprotes, menilai dengan pandangan negatif.

Mengenai hal ini, kami memiliki sedikit pengalaman. Ketika suatu waktu kami pergi sebuah pusat perbelanjaan bersama dengan anak kami yang masih kecil berusia empat tahunan, waktu itu kami sedang berdiri di depan sebuah toko yang di depannya di tarus sebuah patung perempuan dengan dipakaikan kain (seperti kemben) yang hanya di tutupkan diatas dada kebawah, sementara bagian pundak dan leher patung perempuan itu terlihat. Sementara itu, dibagian kepada patung tersebut dipakaikan jilbab / kerudung.

Ketika berada di depan patung ini, serta merta anak kami yang berusia empat tahun ini berucap, “bi (panggilan abi), mi (ummi) itu patungnya icin gak pake baju”. Kurang lebih seperti itu ucapan anak usia  empat tahun ketika melihat pakaian yang dikenakan di patung tersebut.

Mungkin dari sepenggal pengalaman ini bisa kita lihat, anak kecil yang biasanya ia melihat seorang perempuan muslimah, wanita muslimah itu biasanya memakai busana tertutup, ketika melihat sesuatu yang berbeda dari yang ia pikirkan, berbeda dengan apa yang ia anggap sebuah kelaziman maka serta merta koementar seperti diatas keluar.

Hal tersebut dimungkinkan karena memang anak kecil itu masih suci, pikirannya dan hatinya belum terkotori oleh syahwat dan syubhat. Namun akan berbeda ketika seseorang itu sedari kecil sudah dibiasakan dengan kebiasaan yang kurang baik, di sodorkan / diperlihatkan berbagai macam tontonan syahwat / hawa buruk orang-orang di sekitarnya, tontonan buka-bukaan baik asli maupun karikatur, dan dijaukan dari perkara yang sifatnya kebaikan, sesuai dengan naluri, sesuai dengan fitroh, maka mungkin jangankan melihat patung yang berbusana aneh seperti tadi, mungkin ketika ia melihat wanita secara asli setengah telanjang saja ia akan baik-baik saja dan tidak merasa aneh. Dan ketika kebiasaan dan pembiasaan buruk itu terus menerus ia konsumsi hingga dewasa sangat besar kemungkinan ketika dewasa justru mungkin ia jadi pelaku hal yang ia anggap biasa tersebut.

Maka bagi kita setiap orang tua muslim dan muslimah, wajib bagi kita untuk mendidik anak-anak kita dengan pembiasaan yang baik padanya, pengarahan yang baik, dan penjelasan mengenai perkara-perkara yang buruk dan dilarang. Hal ini sebagai bentuk implementasi perintah Allah ta’ala untuk menjaga diri kita dan keluarga kita dari api Neraka, sebagaimana firman Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka

Mudah-mudahan Allah selalu memudahkan kita untuk memperbaiki diri dan keluarga, dan mudah-mudahan Allah selalu bimbing kita di dalam jalan hidayah-Nya dan mudah-mudahan kita dijauhakan dan di sekmatkan dari berbagai macam syubhat dan syahwat. Amiin.

Mari Like Fanspage RUMAH BELANJA MUSLIM
Toko FB RUMAH BELANJA MUSLIM
Akun FB RUMAH BELANJA MUSLIM
Twiter Rumah Belanja Muslim
Channel Telegram RUMAH BELANJA MUSLIM 
www.RumahBelanjaMuslim.Com
Read More
Renungan Kematian
Renungan

Renungan Kematian

[caption id="attachment_858" align="aligncenter" width="632"]Renungan Kematian Renungan Kematian[/caption]

Kematian adalah sebuah kepastian. Usia sudah di tetapkan dan tidak bisa di tawar. Kapanpun, dimanapun, dalam keadaan apapun ketika kematian menghampiri maka tutuplah semua peluang amalan.

Betapa banyak orang bimbang terhadap rizkinya, terhadap keudukannya di dunia, terhadap keberhasian dan kesuksesanannya di dunia, namun lupa akan kematian. Padahal kematian itu dapat datang kapan saja, sementara bekal untuk menymbutnya lalai kita cari.

Kematian itu pasti, rizki juga sudah tetap, sementara hidayah tidak ada yang bisa menjamin. Lalu mengapa kita masih saja mementingkan rizki yang tetap, bai dari jalan yang halal ataupun yang haram untuk megambilnya, maka tidak akan sedikitpun mengurangi ataupun menambahnya. Sementara hidayah diatas Islam, hidayah di atas Sunnah pada akhir kehidupan ini tidak ada yang dapat memastikan, justru banyak orang yang melalikannya, atau bahkan mungkin lupa terhadapnya.

Jika orang-orang sholeh, para alim, para ulama mereka meninggalkan dunia ini dengan bekal amalan sholeh mereka, sementara kita, apa yang telah kita siapkan untuk mejadi bekal kelak di akhirat? Siapkah kita ketika kelak kita di tanya Man Rabbuk? Wa Maa Dinuk? Wa maa hadzaar rujululladzii bu’itsa fiikum?

Maka layakkah bagi kita untuk bersantai? Layakkah kita untuk terus mengelu-elukan dunia hingga hampir-hampir menjadi budak dunia? Layakkah kita selalu banggakan apa – apa membanggakan bagi kita dalam perkara dunia?

Bukankah kita telah mengetahui, bahwasannya kenikmatan dunia ini adalah kenikmatan yang menipu? Allah ta’ala berfirman,

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al Hadid: 20)

Maka marilah kita perhatikan ulang amalan kita. Mari kita isi waktu yang tersisa dari usia kita ini untuk berbekal menuju kampung halaman. Mudah-mudahan kita mampu mengukir di sisa waktu ini ukiran kebaikan dalam hidup kita yang kelak akan menjadi pelajaran bagi anak-anak dan generasi setelah kita. Dan mudah-mudahan Allah ta’ala mudahkan untuk kita dalam berjalan diatas ketaatan, berjalan diatas ilmu, hingga kelak kita di wafatkan dalam keadaan khusnul khotimah. Amiin.

Fanspage RUMAH BELANJA MUSLIM
Akun FB RUMAH BELANJA WHYLUTH
www.RumahBelanjaMuslim.Com
Read More