Celana Ngatung
Nasehat

Celana Cingkrang Hanya Budaya ??

Posted On November 27, 2017 at 12:41 pm by / No Comments

Mungkin kita pernah dengar atau pernah membaca seseorang yang ingin mebantah atau ingin menyatakan bahwasannya celana cingkrang / tidak isbal itu adalah sunnah, ada yang menyatakan bahwasannnya celana cingkrang ini hanyalah sebatas budaya, dan bukan bagian dari agama.

Dan hal ini juga pernah kami jumpai dan pernah kami membaca seseorang yang memiliki pemahaman seperti ini. dan terlihatnya dari orang yang seperti ini yang keluar dari lisannya bukan ilmu, tapi nafsu untuk tidak mau mengenakan celana yang tidak isbal / celana cingkrang atau pakaian yang tidak isbal.

Mungkin maksut sebagian yang menolak celana cingkrang atau di syariatkannya pakaian yang tidak isbal ini sebagaimana mereka yang menolak cadar dengan alasan budaya Arab.

Padahal jika dilihat tentu jauh. Kira – kira dari budaya mana ada kebiasaan memakai celana cingkrang ? Jika mau di bilang budaya arab juga, bahkan di Arab kebanyakan pakaian pakaian yang di pakai penduduk di sana bukan bercelana dan baju atasan. Karena disana mayoritas penduduknya berpenampilan memakai gamis.

Berkenaan budaya, di negeri kita ini di kenal berbagai macam budaya. Salah satunya budaya sunda. Yang di daerah sunda ini di berlalukan sebuah peraturan yang di beri nama Rabu Nyunda.

Taukah anda pakaian apa yang di pakai oleh seorang pria saat rabu Nyunda ini ?? Yang di pakai adalah pakaian sunda lengkap dengan celana nya yang bermodel celana cingkrang di atas mata kaki.

Coba kita bandingkan. Ketika ada peraturan yang memerintahkan seorang pegawai negeri sipil untuk mengenakan celana cingkrang dalam bentuk pakaian adat sunda ini. Hampir hampir tidak ada penolakan padanya. dan mereka ikuti peraturan itu dengan baik, tidak di dapati penentangan yang begitu alot.

Namun, ketika ajaran ini sumbernya dari Islam, larangan berpakaian Isbal / mengenakan celana dengan panjang di bawah mata kaki ini berasal dari ajaran Islam yang sudah jelas hadits nya. Mengapa kita masih saja mencari cari alasan untuk menolaknya.

Pertanyaannya, mengapa ketika peraturan itu yang membuat pemerintah atau atasan kita di tempat kita bekerja kita ta’ati dengan tanpa adanya penentangan yang berarti? sementara ketika aturan itu datangnya dari Islam, lalu kita seorang muslim selalu mencari cari celah dan alasan untuk tidak melaksanakannya ??

Entah dengan alasan itu kan sekedar hanya “sunnah”, atau yang parahnya mungkin mencari cari alasan kan cuma budaya, dan selainnya. Lalu kita tidak mau mentaati apa yang menjadi peraturan dalam Islam.

Jika seandainya larangan isbal bagi seorang pria ini hanya sekedar budaya saja. Tentu tidak akan ada hadist hadist yang menjelaskan larangan tentang isbal ini. Jika ini hanya sekedar budaya saja, tentu para sahabat tidak akan terlalu perhatian tentang larangan ini. seperti yang kita ketahui kisah seorang sahabat Umar bin Khoththob yang menegur seorang pemuda yang mengenakan sarung / pakaiannya melebihi mata kaki. Padahal beliau dalam keadaan terluka, namun beliau radhiallahu’anhu sangat perhatian tentang syariat ini.

Tentu jika perkara memakai celana cingkrang atau larangan pakaian isbal ini hanya sekedar budaya atau adat, beliau tidak akan seperhatian ini.

Yuuk coba kita simak ulang kisah nya berikut ini.

Kisah Pakaian Isbal

Ketika Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu dalam keadaan sakit parah setelah ditusuk oleh Abu Lu’lu’ Al-Majusi. Banyak orang datang menjenguk beliau dan memberikan pujian kepada beliau, diantaranya adalah seorang pemuda.

Sang pemuda itu pun berkata: Wahai amirul mukminin, bergembiralah dengan kabar gembira dari Allah untukmu. Anda adalah sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan anda termasuk yang pertama masuk Islam. Kemudian anda menjadi khalifah dan anda telah berlaku adil lalu anda mendapatkan gelar syahid.

Ketika sang pemuda itu hendak pulang tiba-tiba terlihat sarungnya menyentuh tanah.

Umar berkata: Kembalikan kepada ku anak muda tadi.

Umar pun berkata kepada sang pemuda: Wahai anak saudaraku, angkat sarungmu karena itu lebih bersih bagi pakaianmu dan lebih bertakwa kepada rabbmu.(HR.Bukhari no. 3700)

Bagaimana Sikap Kita ??

Tentu setelah kita melihat kisah yang di riwayatkan dalam Shahih bukhori diatas sudah jelas nampak bagi kita. Tentu memakai celana cingkrang / larangan isbal ini bukan hanya berkenaan dengan adat atau budaya. Bahkan larangan Isbal ini berasal dari agama kita, yaitu Islam.

Dan kita ketahui tentang hukum Isbal dengan keadaan sombong ini haram dan tidak ada silang pendapat di kalangan Ulama. Yang kita dapati perbedaan pendapat di kalangan ulama adalah seorang muslim yang isbal namun tidak sombong.

Dari sini juga kita ketahui, entah hukumnya Haram atau makruh, tentu ini semua berlaku larangan di dalam nya. Jika permasalahan ini ada pembahasannya di kalangan ulama, dan keluarlah produk hukum ini, tentu ini bukti bahwasannya memakai celana cingkrang / larangan isbal ini bukan permasalahan budaya.

Wallahu a’lam.

Admin | www.RumahBelanjaMuslim.Com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *