Fanatisme Agama Di Masyarakat
Opini

Contoh Fanatisme Agama Di Masyarakat

Posted On Oktober 19, 2016 at 8:45 pm by / No Comments

Fanatisme Agama Di Masyarakat
Fanatisme Agama Di Masyarakat

Meneruskan tulisan mengenai Fanatik Agama yang telah kami share pada kesempatan sebelumnya. Kali ini kami ingin sedikit menulis berkenaan dengan tema tersebut khususnya mengenai beberapa contoh-contoh perbuatan, amalan, sikap seseorang yang di masyarakat kita dianggap sebagai sikap fanatik agama.

Tidak Mau Mengambil Riba

Ketika dikatakan riba itu haram, maka mungkin kebanyakan kita akan mengiyakan pernyataan ini. Namun akan berbeda ketika dalam prakteknya. Terkadang kita tahu suatu hal ini riba, namun dengan alasan butuh, tidak ada pilihan, sudah biasa, maka banyak dari kita yang menerjang larangan riba ini.

Maka tak heran jika ada orang Islam yang justru merasa aneh ketika melihat ada saudaranya yang tidak mau mengambil riba.

Misalkan kita ambil contoh yang umum terjadi. Betapa banyak dan sudah tidak sungkan-sungkannya lagi seorang muslim bermuamalah dengan bank konvensional yang jelas ribanya. Bahkan banyak juga kita dapati di bank-bank ini para petugasnya mengenakan kerudung.

Begitu juga para pedagang, pengusaha, pebisnis yang bahkan kita temui keluar dari lisannya mengatakan bahwasannya jika kita tidak mengambil pinjaman riba dari bank maka kita akan makan apa? Dan kenyataan seperti ini dianggap biasa di lingkungan kita yang notabene mayorits muslim.

Tidak cukup disini saja. Bahkan jika ada sebagian dari kita yang tidak mau mengambil riba. Tidak mau mengambil pinjaman dari bank konvensional. Justru dikatakan kepada mereka, bahwasannya perbuatannya tidak logis, tidak masuk akal dan sejenisnya.

Ketika dijelaskan alasan mengapa tidak mau mengambil pinjaman riba di bank, baik KPR, kredit kendaraan, ataupun kredit lainnya dikarenakan agama ini melarang riba. Justru orang yang seperti ini dianggap memiliki paham yang ekstreem, paham yang diluar kebiasaan masyarakat, fanatik agama, dan lain sebagainya.

Dan perkara seperti ini benar-benar terjadi di lapangan. Dimana orang yang ingin berpegang teguh dengan agamanya dianggap eksteem, fanatik agama, belebihan dan sejenisnya.

Padahal wajib bagi setiap muslim itu meninggalkan setiap perkara yang dilarang Allah. Namun ketika ada orang yang meninggalkan perbuatan yang dilarang di hari ini malah justru dianggap fanatik atau ekstrim. Sungguh mengherankan.

Justru jika kita melihat makna fanatik yang tidak keluar dari sesuatu yang berlebihan dan dilakukan tanpa landasan yang benar. Maka perbuatan yang menganggap orang yang meninggalkan riba sebagai orang yang fanatik itu justru kembali pada yang melabelkan.

Hal ini karena sudah jelas landasan dilarangnya riba di dalam Agama. Sementara yang bermudah-mudah dengannya tentu tidak akan mendapatkan landasan yang kuat.

Padahal riba itu sendiri justru merugikan mereka yang mengambilnya.

Jika mereka menyadari dampak dari riba, maka niscaya tidak ada ungkapan-ungkapan seperti diatas.

Betapa banyak orang yang bisa hidup tanpa riba. Dan betapa banyak orang yang berada, memiliki kecukupan tanpa menggunakan riba.

Dan sebaliknya berapa banyak korban riba. Berapa banyak pengusaha bangkrut karena riba. Berapa banyak perusahan gulung tikar karena riba. Dan ternyata penyebab inflasi yang terjadi di setiap negeri itu adalah RIBA.

Tidak Mau Jabat Tangan Dengan Lawan Jenis

Jabat tangan adalah sebuah perbuatan yang baik. Namun perbuatan ini dapat menjadi tidak baik ketika dilakukan antara pria dan wanita yang bukan mahrom.

Larangan jabat tangan lawan jenis yang bukan mahrom ini sudah jelas di dalam Islam. Namun ternyata ada sebgian orang-orang yang menggap larangan ini biasa. Sehingga dihari ini kita dapati wanita jabat tangan dengan pria tanpa canggung dan tanpa merasa berdosa.

Dan parahnya jika ada laki-laki atau perempuan muslim yang mejaga diri tidak jabat tangan dengan selain mahrom, mendapat julukan yang kurang  baik. Seperti kampungan, kuno, sampai fanatika agama.

Terkadang kita bingung, sebenarnya yang dimaksud dengan fanatik agama disini apa menurut masyarakat? Dari banyak kejadian justru yang dianggap fanatik agama adalah orang-orang yang menjalankan agamanya.

Lalu yang tidak fanatik agama yang seperti apa? Dan kalau senadainya agama hanya dipakai di KTP saja dan tidak ada penerapan dalam kehidupan lalu apa maslahatnya agama ini bagi kita?

Bukankah agama ini kita anut untuk kita amalkan? Dan dengan mengamalkan agama ini ternyata kebanyakannya adalah kemaslahatan. Namun ternyata hal ini tidak serta-merta membuat penganutnya menyadarinya.

Menundukkan Pandangan

Menjaga pandangan dari hal yang diharamkan Allah ta’ala juga merupakan salah satu syariat Islam yang tidak lepas dari ujian bagi yang mengamalkannya. Berbagai macam julukan yang kurang enak di rasa di tujukan kepada orang yang menundukkan pandangan kepada lawan jenis yang bukan mahrom.

Tidakkah kita menyadari pandangan adalah salah satu dari panah-panah syaiton yang siap menghujam dan meracuni hati pemiliknya kapan saja ketika ia melepaskan pandangannya?

Atau tidakkah kita menyadari bahwasannya fitnah wanita itu sangatlah besar, bahkan dikatakan dalam sebuah hadits sebesar-besarnya fitnah terhadap laki-laki?

Jika yang memberikan julukan buruk bagi muslim yang menjaga pandangan ini adalah laki-laki lagi. Maka seolah-olah ia tidak mengenal dan mengerti keadaan hatinya. Betapa lemahnya hati manusia ini, sementara syahwat terus saja menyerbu dari berbagai sisi.

Sementara jika yang memberikan julukan itu adalah wanita. Maka tidakkah mereka menyadari bahwasannya seorang laki-laki yang menjaga pandangannya terhadap wanita yang bukan mahrom ini merupakan bentuk keamanan baginya. Ia akan lebih terjaga dari fitnah dan memfitnah. Ia akan lebih terjaga kehormatannya. Maka bukankah ini kebaikan bagi seorang wanita?

Wallahu a’lam.

Insyaa Allah beberapa contoh perbuatan yang dianggap fanatik agama oleh kebanyakan masyarakat di sekitar kita kami lanjutkan dalam tulisan berikutnya, bi idznillah.

Admin
www.RumahBelanjaMuslim.Com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *