Hijrah Hati Menuju Allah Ta’ala

Hijrah Hati Menuju Allah

Hijrah Hati Menuju Allah

Belakangan ini, kita sering melihat komunitas – komunitas atau grup – group dengan nama hijrah. Betapa baiknya kita lihat banyak dari para pemuda nya yang memiliki semangat untuk berhijrah. Merek berkumpul – kumpul untuk mencari jalan hijrah menuju Allah.

Dari satu sisi, ini adalah semangat yang sangat baik yang harus di apresiasi. Dan juga di sisi lainnya ada hal – hal yang hendaknya seorang muhajir yaitu seorang yang ingin hijrah menuju Allah perhatikan.

Yaitu bukan hanya selogan saja hijrah menuju Allah ini. Bukan hanya cover saja yang berubah dari perjalanan hijrah ini. Sehingga tidak menjadi seseorang yang nampaknya ia berhijrah menuju Allah ta’ala padahal pada hakikatnya ia diam ditempat. Atau mungkin bisa jadi justru berlajan mundur.

Tentang Hijrah

Hijrah menurut Ibnul Qoyyim rahimahullah di dalam buku Risalah Tabukiyah terbagi menjadi dua macam. Pertama ada hijrah jasmani, yaitu hijrah dari sebuah negeri ke negeri yang lainnya. Kedua, hijrah hati menuju Allah dan Rasul-Nya. Inilah hijrah yang hakiki dan hijrah yang inti. Sedangkan hijrah jasmani adalah cabang dari hijrah ini.

Masih di dalam buku yang sama,  di sebutkan bahwasannya hijrah memiliki kandungan pengertian, dari sesuatu kepada sesuatu. Artinya memiliki titik tolok dan tujuan yang hendak di capainya.

Oleh karena itu, seorang harus ber hijrah dengan hatinya dari mencintai selain Allah, kepada mencintai-Nya, dari menyembah selain Allah, kepada menyembah kepada-Nya, dari takut, berharap dan tawakkal kepada selain Allah menuju takut, berharap dan tawakkal hanya kepada-Nya, dari meminta, memohon, tunduk dan merendah di hadapan selain Allah, menuju meminta memohon, tundak dan merendah hanya kepada-Nya.

Inilah yang di sebut dengan al firal ilallah, Berlari Menuju Allah, sebagaimana Firman-Nya, “Maka bersegeralah (berlarilah) kembali kepada Allah” (QS. Adz-Dzariyat : 50).

Maka inti dari hijrah hati menujuu Allah itu bukan hanya pada penampilan fisik atau sekedar kumpul – kumpul dan mendiskusikan hijrah saja. Namun hijrah hati itu dengan benar benar membenahi hati secara berkesinambungan, mengobati yang sakit, membenahi tauhid, membenahi amalan, dan muamalah kepada sesama manusia.

Tidak mungkin dikatakan seseorang yang berhijrah itu sementara ia hanya jalan di tempat. Hanya berkecimpung dalam motivasi yang sifatnya lahiriyah. Bahkan terkadang tidak di dasari dengan Ilmu.

Bekal Hijrah Hati Menuju Allah

Perlu di ketahui, bahwasannya perjalanan hirah hati menuju Allah ini adalah perjalanan yang panjang dan terjal. Dan perjalanan ini akan terus belanjut sehingga ajal menjemput kita.

Perjalanan hijrah ini juga bukan perjalnan tamsya atau perjalanan yang di sediakan karpet merah yang terhampar di depan kita. Bahkan perjalanan ini adalah perjalanan yang berat serta terjal, penuh liku, penuh onak dan duri.

Maka hendaknya siapa saja yang hendak memulai perjalanan hijrah nya menuju Allah ia berbekal denganperbekalan yang cukup. Agar kelak ia tidak berhenti di tengah perjalanan karena kehabisan bekal.

Diantara bekal yang utama bagi seoarang muhajir yang berhijrah di jalan Allah yaitu bekal ILMU Syar’i. Bekal ini adalah bekal utama dalam perjalanan.

Dengan membekali diri dengan Ilmu ini, maka kita yang berhijrah menuju Allah tidak mudah tersesat di jalan dan tidak mudah di sesatkan.

Kita tahu jalan mana yang harus kita tempuh dalam rangka perjalanan Hijrah Hati Menuju Allah ini. Kita bisa bedakan mana penyeru yang menyeru kepada jalan Allah, dan mana penyeru yang menyeru kepada jalan syaitan yang menyesatkan.

Maka siapapun anda, yang hendah berhijrah menuju Allah, hendaknya ia berbekal dengan bekal Ilmu Syar’i. dan ilmu ini di dapat dengan belajar, yaitu belajar kepada Ulama. Belajar kepada guru guru yang kompeten memahami Agama.

Bukan hanya sekedar duduk duduk membuat majelis. Siapa person yang lagi populer kemudian kita undang untuk mengisi ceramah. Namun guru yang memang benar ia adalah seorang yang kompeten dalam keilmuannya.

Jalan Menuntut Ilmu

Juga perlu di ketahui, bahwasannya menutut Ilmu ini adalah juga bukan perjalanan yang santai. Sehingga kita bisa belajar dengan santai dan berleha leha. Bahkan menuntut ilmu ini diperlukan upaya yang keras.

Ilmu tidak akan masuk kepada seorang hamba dengan badan yang terlena dan santai. Karena ilmu harus di cari dengan sungguh sungguh, banyak pengorbanan di dalamnya. Pengorbanan harta, fisik, dan selainnya.

bagi anda yang ingin mendapatkan ilmu. Maka hendaknya kita tidak hanya duduk – duduk santai di rumah saja. karena ilmu itu di datangi bukan mendatangi, apalagi di tunggu.

Maka perbanyaklah bekal Ilmu untuk melancarkan perjalanan Hijrah Hati Menuju Allah. Mudah mudahan kita di beri kekuatan untuk terus bertahan dalam perjalanan hijrah yang panjang dan terjal ini.

Insyaa Allah tulisan berkaitan dengan Hijrah Hati Menuju Allah ini akan berlanjut pada kesempatan berikutnya. Wallahu a’lam.

Admin | www.RumahBelanjaMuslim.Com/Blog

Tinggalkan Balasan