kesialan pada tempat tinggal
Akidah

Kesialan Pada Tempat Tinggal

Posted On April 15, 2016 at 12:54 am by / No Comments

kesialan pada tempat tinggal
kesialan pada tempat tinggal

Berkaitan dengan artikel sebelumnya dengan judul Rumah Pembawa Hoki / Rumah Pembawa Sial disebutkan dalil – dalil larangan thiyaroh / tathoyyur. Dan mungkin ada juga pernah mendengar / membaca hadits mengenai kesialan itu ada dalam tiga perkara, yaitu wanita, kuda, dan tempat tinggal / rumah.

“Seandainya kesialan itu ada, maka pada wanita, kuda, dan tempat tinggal.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika kita lihat sekilas, kedua hal diatas yaitu penjelasan dalam artikel Rumah Pembawa Sial dengan hadits yang menyatakan tiga perkara yang membawa sial yaitu salah satunya adalah rumah / tempat tinggal seolah-oleh bertentangan. Berkaitan dengan hal ini para ulama telah memadukan / mengkompromikan kedua hadits yang terlihat seolah bertentangan ini.

Secara sederhana kedua hal ini yaitu larangan tathoyur menganngap tempat tinggal sebagai sumber kesialan dengan hadits yang menyebutkan kesialan itu berada dalam tiga perkara yang salah satunya disebutkan adalah rumah / tempat tinggal, dapat di gabungkan menjadi satu pemahaman yang tidak bertentangan yaitu dengan memahami bahwasannya kesialan ini dapat muncul karena terjadinya mudhorot yang berulang.

Seperti misalnya di tempat tinggal kita sering di sambangi maling, lingungannya kurang bagus karena jauh dari agama dan dekat dengan kemaksiatan, tetangga yang tidak baik, jauh dari masjid dan tidak mendengar adzan, sempit, dan sejenisnya maka dibolehkan bagi kita untuk meinggalkan tempat tinggal ini. Dan kemudhorortan – kemudhorotan tersebut adalah kesialan yang kita alami akibat kita tinggal di rumah tersebut, sehingga dengan alasan seperti ini kita diperbolehkan meninggalkan tempat tinggal kita. (Disarikan dari abiubaidah.com)

Jadi sebab terjadinya kesialan di dalam rumah / tempat tinggal kita itu adalah sebab yang  jelas yaitu karena sifat-sifat yang tercela atau perkara-perkara yang yang dapat membuat kerusakan / kemudhorotan bagi penghuninya.

Jika sebab kesialan itu tidak jelas, hanya semata-mata karena dzat rumahnya, posisinya (bukan lingkungan), maka tentu ini termasuk tathoyyur yang dilarang di dalam Islam. Seperti contohnya seseorang tidak mau tinggal di rumah dengan no 13 karena takut sial dikarenakan no tersbut adalah nomor sial, hal ini tentu tidak ada sebab dan akibat yang jelas antara no 13 dan kesialan seseorang. Maka hal yang seperti ini dilarang di dalam Islam.

Untuk lebih mudah memahami batasan merasa sial yang diperbolehkan maka mari kita simak tiga syarat bolehnya merasa sial terhadap sesuatu sebagai berikut,

  1. Mengetahui bahwa kesialan tersebut bukan terjadi pada dzat nya, akan tetapi terjadi karena dampak-dampak yang Allah Ta’ala takdirkan berupa kebaikan atau keburukan. Contohnya tanda kesialan pada rumah yaitu sempitnya, tetangga yang buruk, sering kena musibah (pencurian dan sejenisnya), jauhnya dari masjid sehingga tak mendengar adzan, dan sebagainya.
  1. Kesialan ini muncul karena adanya sifat yang tercela yang jelas berpengaruh. Berbeda dengan kesialan terlarang yang biasanya muncul karena sebab yang tidak jelas seperti membatalkan rencana bepergian hanya gara-gara melihat seekor burung.
  1. Kesialan ini tidak muncul kecuali setelah terjadinya kemadhorotan yang berulang-ulang. Seandainya seorang merasa terkena madhorot dari sesuatu, maka boleh baginya untuk meninggalkannya.  Namun dengan tetap berkeyakinan bahwa hanya Allah Ta’ala saja yang menciptakan dan mengatur kebaikan dan keburukan tersebut. (Buletin.Muslim.Or.Id)

Oleh karena itu, hendaknya kita selalu bertawakkal hanya kepada Allah. Karena kebaikan, keburukan, kelapangan, kesempitan itu datangnya murni semata-mata hanya dari Allah. Bukan karena burung, bukan karena nomor atau selainnya. Wallahu a’lam.

Fanspage RUMAH BELANJA MUSLIM 

Akun FB RUMAH BELANJA WHYLUTH

www.RumahBelanjaMuslim.Com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *