Contoh Fanatik Agama
Opini

Lanjutan Contoh Fanatik Agama

Posted On Oktober 23, 2016 at 9:18 am by / No Comments

Contoh Fanatik Agama
Contoh Fanatik Agama

Masih melanjutkan tulisan dengan tema cotoh – contoh perbuatan yang dianggap fanatik agama. Berikut beberapa anggapan yang sering muncul di masyarakat kita mengenai penampilan muslim yang dianggap berlebihan.

Memakai Jilbab Panjang

Memakai jilbab panjang atau yang sering disebut dengan jilbab syari saat ini masih merupakan amalan yang terlihat asing di masyarakat. Tidak jarang nyinyiran keluar dari lisan sesama muslim kepada seorang muslimah yang memakai jilbab panjang ini.

Dari sebutan kuno, ketinggalan zaman, kolo, fanatik, dan sampai kepada taraf yang ekstrim julukan teroris / istri teroris biasa kita temui dilapangan.

Begitu pula bagi muslimah yang memakai jilbab panjang plus di lenglapi dengan cadar. Maka niscaya berbagai macam pandangan tertuju padanya. Ada pandangan positif, dan tidak kalah banyak pandangan negatif yang kurang nyaman di rasa.

Berbeda jika kita lihat fenomena wanita yang katanya muslimah namun memakai serba terbuka. Pakai rok mini, pakai bikini, pakai celan jeans yang ketat, tidak memakai jilbab. Maka banyak dari kita yang diam, cuek, dan bahkan seolah-olah menilai itu adalah perbuatan yang biasa.

Bahkan bagi sebagian kalangan memakai baju serba terbuka yang mengikuti tren negara barat ini adalah simbol kemajuan zaman. Laahaula wala quwwata illa billah.

Jika kejadiannya seperti ini, lalu dimana kecemburuan kita terhadap agama kita. Ketika agama kita dihina orang kafir tentu serta merta kita akan marah. Dan memang dari sejak dahulu di dakwahkan Islam orang kafir tidak akan pernah ridho dengan agama kita.

Lalu jika agama kita tidak dihargai oleh pemeluknya sendiri, apakah kita hanya bisa diam?

Dan justru seolah-olah malah menyalahkan orang yang menjaga agama ini dengan pengamalan?

Bukankah ini adalah sikap yang terbalik?

Ketika orang kafir menghina agama kita tentu setiap umat Islam akan sakit hatinya, marah. Namun jangan hanya hal yang nampak jelas salah ini yang kita perhatikan.

Mari kita juga perhatikan agama kita sendiri. Jangan sampai kita hanya bisa marah ketika agama kita dihina orang kafir. Sementara kita sendiri enggan mengamalkan syariat dalam agama kita. Enggan menuntut ilmu syari.

Sebelum kita mengingikan agama ini di harga dan di hormati orang lain, maka ada baiknya mari kita hargai, tinggikan agama ini dengan mengamalkannya. Menjadikan agama ini satu-satunya penentu hukum, penentu amalan, pembeda antara yang baik dan yang buruk.

Karena umat ini akan mulia hanya karena dengan meninggikan kalimat Allah dengan mengamalkannya. Bukan hanya berteriak-teriak membela sementara amalan masih dipertanyakan. Apalagi justru nyinyir kepada sesama muslim yang menerapkan agama dengan menyebutnya dengan sebutan yang buruk. Wallahu a’lam.

Meninggikan Kain Bagi Laki-Laki

Meninggikan kain / celana / sarung bagi laki-laki memang kita temui ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Namun tentu bai kita seorang muslim dalam memilih hukum terhadap kita bukanlah hany bersandar kepada pendapat. Namun lebih dari itu kita harus melihat dalil dan pendalilan dari masing-masing pendapat. Sehingga kita memilih hukum sesuatu itu di dasarkan mana yang paling mendekati dengan dalil syari.

Walaupun perkara ini sudah menjadi pembahasan para ulama Islam.  Ternyata masih ada saja sebagian saudara kita yang masih belum bisa menerimanya. Bahkan ada yang menganggap orang yang meninggikan kain diatas mata kaki ini orang yang kolot dan fanatik.

Padahal pembahasannya sudah jelas. Ulamanya juga jelas ulama Islam. Dalilnya juga ada. Namun mengapa masih ada saja yang menganggap memakai kain diatas mata kaki ini sebagai perkara yang berlebihan?

Jika anda masih meiliki anggapan orang yang mengenakan celan cingkrang itu orang yang fanatik agama dengan artian negatif. Maka ada baiknya kita hentikan anggapan ini.

Karena perkara ini ternyata ada pembahasannya dikalangan ulama Islam. Dan perkara ini bukanlah perkara yang berlebihan. Dan justru khawatir orang yang menganggapnya belebihan ini termasuk pada orang yang menyepelekan syariat Islam. Atau minimal terlalu bermudah-mudah.

Jikapun seandainya kita lebih condong memakai pendapat bolehnya musbil (memakai kain dibawah mata kaki), maka cukuplah pendapat itu kita ambil dan tidak pelu lagi nyinyir kepada orang yang berbeda dengan kita. Apalagi memberikan julukan-julukan yang kurang baik.

Mudah-mudahan dengan kelapangan hati kita menerima hal ini akan memudahkan hidayah terus masuk kedalam dada kita. Hingga kita menjadi orang yang istiqomah di jalan Islam sampai akhir usia kita. Amiin.

Tidak Pacaran / Mendukung Pacaran

Pacara adalah hal yang sangat dikenal di masyarakat. Bahkan hampir kebanyakan remaja pernah mengalami hal ini. Berbagai macam alasan dilakuan untuk melegalkan pacaran. Takut tidak laku, untuk penjajakan, saling mengenal satu sama lain sebelum taraf penrihakahan dan berbagai macam argumentasi lainnya muncul terkait pembenaran pacaran ini.

Padahal jika kita mau sedikit menimbangkan dengan menjauhkan syahwat dari hati kita, maka dari pacaran ini kita akan dapati lebih banyak kerusakan daripada kebaikannya.

Hampir semua perkaranya dalam pacaran ini adalah kerusakan. Yang setiap perilaku pacaran ini dapat dikatakan kebanyakannya adalah amalan yang menjadi wasilah terjadinya perzinahan.

Sementara kita mengetahui hukum dari wasilah adalah tergantung pada tujuannya. Jika tujuan pacaran ini adalah campur baur yang menyebabkan pelakunya melakukan perzinahan dalam berbagai macam aspeknya. Maka hukum pacaran ini mejadi haram.

Dan kebanyakan orang yang berpacaran ini tujuannya tidaklah positif. Kebanyakan orang yang pacaran adalah ingin menikmati hal yang masih di haramkan Allah ta’ala baginya. Sehingga kebanyakan perkara dalam pacaran ini adalah perbuatan zina yang selalu mendahulukan syahwat.

Namun dengan jelasnya pelarangan pacaran ini. Masih saja ada anggapan bahwasannya jika muslim yang anti pacaran ini terlalu berfikir kuno, ketinggalan zaman, fanatik agama, sok suci dan sebagainya. Bukankah ini adalah menyamarkan perkara yang sudah terang.

Sebagai seorang muslim, hendaknya kita melihat lagi, bagaimana kita bersikap. Apakah yang kita lakukan itu lebih bersesuaian dengan hawa nafsu ataukah timbangan kebaikan dalam Agama.

Jika kita masih mengesampingkan timbangan agama, maka jangan cari-cari alasan pembeanaran itu dengan alasan agama. Karena ternyata kita masih belum menjadikan agama ini penentu kita bersikap.

Jika kita menyadari ternyata dalam kita bersikap ini kebanyakannya di iringi dengan nafsu syahwat, maka hendaknya sekarang juga kita bendung belenggu syahwat ini. Mari kita perlajari lagi agama  kita, sehingga kita bisa membedakan mana yang baik dan buruk itu berdasarkan agama kita. Bukan berdasarkan nafsu. Wallahu a’lam.

Admin
www.RumahBelanjaMuslim.Com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *