Merenungi Hakikat Wabah Virus Corona

Merenungi Hakikat Wabah
Merenungi Hakikat Wabah

Bahwa wabah tersebut (Wabah Virus Corona) telah ditakdirkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala karena adanya banyak hikmah; karena sebab kufur-nya hamba, kerusakan yang diperbuat di muka bumi, sebagai hukuman Allah untuk manusia, dan sebagai peringatan bagi mereka supaya mereka rujuk dan kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah ta’ala berfiman :

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena sebab perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian (akibat) dari perbuatan mereka, agar mereka kembali.” (QS. ar-Rum: 41)

Allah ta’ala juga berfirman :

Dan musibah apa pun yang menimpa kalian adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari dosa-dosa kalian).” (QS. asy-Syuro: 30)

Sebagaimana Allah ta’ala telah mengabarkan wabah-wabah semisal yang telah menimpa umat-umat terdahulu.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

Dan mereka meminta kepadamu agar dipercepat (datangnya) siksaan, sebelum (mereka meminta) kebaikan, padahal telah terjadi bermacam-macam contoh siksaan sebelum mereka.” (QS. ar-Ra’du : 6)

al-Matsulaat artinya berbagai hukuman yang telah menimpa umat-umat terdahulu. Di antara umat dahulu ada yang rupa mereka dirubah menjadi kera dan yang lain dirubah menjadi babi. Di antara mereka ada yang dibinasakan dengan gempa bumi. Yang lainnya lagi dengan dibenamkannya bumi. Kesemuanya itu merupakan arti dari al-Matsulaat. Demikian penjelasan ath-Thobari rahimahullah.

Berbagai siksaan tersebut diistilahkan dengan al-Matsulaat (mirip dan serupa), sebab antara hukuman yang ada dan hukuman yang akan ditimpakan lagi terdapat kemiripan dan keserupaan.

Di antara bentuk siksaan serupa dan mirip dengan wabah ini yang Allah telah timpakan kepada umat-umat terdahulu ialah, seperti hukuman Allah bagi bala tentara Fir’aun berupa belalang, kutu dan katak.

Allah ta’ala berfirman :

Dan mereka berkata (kepada Musa), “Bukti apa pun yang engkau bawa kepada kami untuk menyihir kami, maka kami tidak akan beriman kepadamu.” Maka Kami kirimkan kepada mereka topan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti-bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.” (QS. al-A’rof: 132-133)

Di antara bentuk hukuman terdahulu yang mirip dengan wabah sekarang ini adalah tho’un. Bahkan sebagian ulama menganggap wabah-wabah yang mematikan masuk ke dalam kategori tho’un.

Tho’un adalah wabah lama yang sudah makruf, berpotensi mematikan, yang Allah kirimkan kepada Bani Israil.

Di dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Muslim, dari hadits Usamah bin Zaid radhiyaAllahu ‘anhuma ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

“Tho’un adalah siksaan atau azab yang dikirim kepada Bani Israil, atau kepada umat sebelum kalian. Maka apabila kalian mendengar keberadaannya di suatu negeri janganlah kalian memasukinya. Dan apabila ia terdapat di suatu negeri sementara kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar untuk melarikan diri darinya.” (Riwayat al-Bukhari (3473) dan Muslim (5825)).

Dalam riwayat Muslim disebutkan :

Sesungguhnya rasa sakit atau penyakit tersebut merupakan siksaan yang ditimpakan kepada sebagian umat sebelum kalian. Terkadang ia pergi, terkadang ia datang kembali. Siapa yang mendengarnya menimpa suatu negeri, maka janganlah sekali-kali ia mendatanginya. Dan apabila terdapat di suatu negeri sementara ia berada di sana, janganlah sekali-kali ia keluar untuk melarikan diri darinya.”(Riwayat Muslim (5830))

Dari hadits ini jelaslah bahwa wabah merupakan hukuman yang ditakdirkan Allah, agar penduduk bumi kembali mengingat Allah. Dan agar mereka meninggalkan kekafiran, kezaliman, berbuat kerusakan dan tindakan melampaui batas yang telah merata di atas muka bumi akhir-akhir ini, seperti mendustakan Allah dan para Rasul-Nya, menjadikan agama sebagai bahan olok-olok, pembunuhan dan pengusiran kaum muslimin, serta tindakan perang terhadap nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam.

Bila ada kaum muslimin yang selamat dari hal-hal di atas, ia tidak akan selamat dari perbuatan bid’ah dan kemaksiatan. Mereka mengerjakannya siang dan malam, secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Demikianlah kondisi kebanyakan kaum muslimin. Kecuali mereka yang dirahmati Allah, kecuali sedikit saja dari mereka.

Dikutip Dari Buku Pedoman Syar’i Pelindung Diri Dari Wabah Corona oleh Syaikh Ibrohim bin Amir an Ruhaily.

Rumah Belanja Muslim

Tinggalkan Balasan