Rumah Pembawa Hoki Rumah Pembawa Sial
Akidah

Rumah Pembawa Hoki / Sial

Posted On April 14, 2016 at 3:09 am by / No Comments

Rumah Pembawa Hoki Rumah Pembawa Sial
Rumah Pembawa Hoki Rumah Pembawa Sial

Dalam menjalankan sebab – sebab mendapatkan rizki dari Allah, tentu banyak cara yang dapat dilakukan oleh seorang muslim. Salah satunya adalah dengan cara menjadi pengusaha, dan termasuk di dalamnya menjadi seorang pedagang muslim.

Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, dalam berusaha dalam berdagang tentu terkadang naik terkadang turun. Terkadang apa yang kita usahakan mendapatkan hasil dan untung yang melimpah, dan terkadang untung sedikit atau bahkan rugi. Dan ini sudah merupakan sunatullah bagi siapa saja yang menjalankan usaha di sebaga bidang.

Dalam menyikapi naik turunnya hasil usaha tentu setiap orang berbeda – beda. Ada yang menyikapinya dengan benar tanpa melakukan hal yang diharamkan Allah, dan ternyata ada juga yang mensikapinya dengan hal yang dapat mendatangkan kemurkaan Allah.

Kalau dalam keadaan untung, maka tentu ini bukanlah masalah yang berat bagi pengusaha muslim. Walaupun terkadang juga kita dapai sebagian orang yang ketika usaha nya lancar bukan ketaatan kepada Allah yang ia lakukan, malah justru menghambur-hamburkan rizki tersebut dengan hal yang haram.

Namun dalam keadaan rizki yang sedang sempit, untung sedikit atau bahkan rugi, tentu ini adalah posisi yang cukup berbahaya bagi seorang pedagang muslim. Kalau senadainya tidak kuat-kuat keimanan yang melandasi hati setiap muslim, maka ini adalah jurang menuju kemurkaan Allah.

Ada satu keyakinan yang sering menghinggapi seorang muslim dalam menyikapi kesempitan rizki yang ia alami. Keyakinan yang kami maksut adalah keyakinan bahwasannya ada unsur Tempat Tinggal Yang Membawa Sial Atau Tempat Tinggal Yang Membawa Hoki.

Sehingga terkadang ketika seseorang dalam berusaha, dalam berdagang mengalami kerugian, maka hal tersebut di sambung-sambungkan sebabnya kepada tempat tinggalnya. Ketika tinggal di tenpat A ia berusaha selalau lancar, maju, namun ketika berpindah ke tempat B ternyata usahanya rugi dan rizkinya sempit. Maka akhirnya terlahirlah keyakinan bahwasannya tempat tinggal seseorang itu berpengaruh terhadap kelapangan dan kesempitan rizki.

Ternyata kayakainan seperti ini merupakan keyakinan yang telah dilarang di dalam Islam. Keyakinan seperti ini disebut dengan thiyaroh atau tathoyyur yaitu beranggapan sial terhadap sesuatu yang didengar, dilihat, diketahui, baik dari tempat, angka, waktu, tumbuhan dan yang lainnya yang ini bukanlah merupakan sebab syar’i yang dapat diterima akal.

Seperti beranggapan hoki atau beranggapan sial terhadap rumah tinggal. Tentu ini bukanlah sebab syar’i dari kelapanagn atau kesempitan rizki seseorang. Maka anggapan seperti ini hendaknya dihilangkan dari diri seorang muslim. Hal ini karena keyakinan thiyaroh telah dilarang di dalam syariat Islam, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ. ثَلاَثًا , وَمَا مِنَّا إِلاَّ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ

Beranggapan sial adalah kesyirikan, beranggapan sial adalah kesyirikan”. Beliau menyebutnya sampai tiga kali. Kemudian Ibnu Mas’ud berkata, “Tidak ada yang bisa menghilangkan sangkaan jelek dalam hatinya. Namun Allah-lah yang menghilangkan anggapan sial tersebut dengan tawakkal.” (Hadits Shahih Riwayat Abu Daud dan Ibnu Majah)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,

لاَ عَدْوَى ، وَلاَ طِيَرَةَ ، وَلاَ هَامَةَ ، وَلاَ صَفَرَ

Tidak dibenarkan menganggap penyakit menular dengan sendirinya (tanpa ketentuan Allah), tidak dibenarkan beranggapan sial, tidak dibenarkan pula beranggapan nasib malang karena tempat, juga tidak dibenarkan beranggapan sial di bulan Shafar” (HR. Bukhari dan Muslim).

Oleh karenanya, mari bagi setiap pengusaha muslim, pedagang muslim, lebih meperhatikan lagi kayakinan kita. Jangan sampai karena hal yang sepele yang berkaitan terhadap rizki kita, kesempitan rizki, atau bencana yang melanda kita, membuat kita terjerumus dalam keyakinan – keyakinan yang dapat mengundang kemurkaan Allah.

Jika kita saat ini sedang dalam keadaan sempit, sedang dalam ujian, sedang dalam kesusahan, maka marilah kita bertawakkal hanya kepada Allah. Karena hanya Allah lah yang dapat merubah yang susah menjadi senang, yang sempit menjadi lapang. Dan tidaklah seseorang itu bertawakkal hanya kepada Allah dengan sebenar-bernarnya tawakkal kecuali Allah akan berikan jalan keluar terhadap masalahnya. Allah ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (QS. Ath Thalaq : 3)

Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda,

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

Seandainya kalian benar-benar bertawakkal pada Allah, tentu kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali di sore hari dalam keadaan kenyang.”  (HR. Tirmidzi).

Wallahu a‘lam.

Fanspage RUMAH BELANJA MUSLIM

Akun FB Rumah Belanja Whyluth

www.RumahBelanjaMuslim.Com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *