Tentang Tujuan Hidup Manusia

Tentang Tujuan Hidup Manusia Di Dunia
Tentang Tujuan Hidup Manusia Di Dunia

Tujuan Hidup Manusia

Apa tujuan hidup manusia ? Untuk apa Allah ta’ala menciptakan kita hidup di dunia ?

Jawabnya sebagaimana Firman Allah ta’ala di dalam al-Quran,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)

Dari ayat ini nampak tujuan hidup manusia menurut pencipta manusia adalah untuk beribadah kepada Allah.

Bukan untuk mencari dunia, bukan untuk foya – foya, bukan pula untuk mencari jabatan dan kedudukan dunia. Tapi ibadah, mengimplementasikan hakikat penghambaan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Jika kita mengetahui tujuan kita di ciptakan di dunia inia dalah untuk beribadah kepada Allah ta’ala, maka hendaknya kita memahami apa itu ibadah ? Apa saja syarat – syarat dan rukun – rukun ibadah yang kita di ciptakan untuk itu.

Mari sedikit kita mengenal tentang hal – hal yang berkaitan dengan tujuan penciptaan manusia, yaitu ibadah. Diantara hal penting yang harus kita ketahu yaitu tentang makna ibadah. Ketika kita tau apa makna ibadah, maka tidak rancu lagi bagi kita, untuk melakukan sesuatu dan meninggalkan sesuatu.

Juga hal yang berkaitan dengan syarat sebuah ibadah itu di terima apa saja beserta rukun – rukun yang harus terpenuhi dalam ibadah. Ketika kita mengetahui hal ini, harapannya ibadah yang kita kerjakan tidak akan terbuang sia – sia seperti debu yang beterbangan. Tetapi setiap amalan ibadah yang kita kerjakan dapat lebih terjaga dan bermanfaat untuk kita kelak di akhirat.

Makna Ibadah

Salah satu definisi yang baik dalam menggabarkan apa itu ibadah adalah sebagaimana yang di sebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau menjelaskan bahwasannya makna ibadah adalah,

العبادة: هي اسم جامع لكل ما يحبه الله ويرضاه، من الأقوال والأعمال الباطنة والظاهرة

Ibadah adalah segala sesuatu yang mencakup semua hal yang dicintai dan diridhai Allah Ta’ala, baik berupa ucapan dan amalan, yang nampak dan yang tersembunyi.

Maka semua perkara yang itu di cintai dan diridhoi Allah baik berupa ucapan maupun amalan yang nampak maupun tersebunyi adalah masuk dalam makna ibadah.

Ketika melanjutkan penjelasan tentang makna ibadah ini, syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan,

Maka shalat, zakat, puasa, hajji, berkata benar, menyampaikan amanat, berbakti kepada kedua orang tua, silaturrahim, menepati janji, amar ma’ruf nahi mungkar, jihad menghadapi orang kafir dan munafiq, berbuat baik kepada tetangga, anak yatim, orang miskin, ibnu sabil, budak, hewan piaran, berdoa, berzikir, membaca al Quran, dan yang semisalnya termasuk ibadah.

Demikian juga mencintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu Alaihi Wasallam, takut dan inabah kepada-Nya, ikhlas hanya kepada-Nya, bersabar atas hukum-Nya, bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya, ridha dengan qadha-Nya, bertawakkal kepada-Nya, mengharap rahmat-Nya, takut kepada azab-Nya, dan yang semisalnya termasuk dalam ibadah.

Untuk mengetahui apakah sebuah hal itu di cintai dan di ridhoi oleh Allah ta’ala, maka semua ini bisa di ketahui melalui dalil. Ketika ada perintah, ada anjuran dalam syariat ini baik dari al-Quran maupun Hadits, baik dalam bentuk khusus atau umum. Maka hal tersebut sudah dapat di pastikan termasuk hal yang di cintai Allah. Mengapa di cintai dan di ridhoi Allah ? Karena Allah mensyariatkannya.

Syarat Diterimanya Ibadah

Sebuah amalan, dapat di terima di sisi Allah menjadi sebuah amal ibadah, amalan sholeh itu jika memiliki tiga syarat.

Pertama, Iman dan Islam. Seorang yang di terima amal ibadah nya, amalan sholehnya hanyalah yang memiliki iman, seorang yang Muslim. Seorang yang kafir, tidak akan di terima amalannya, tidak pula di terima Agamanya. Karena agama yang di terima dan di ridhoi di sisi Allah hanyalah Islam.

Kedua, Ikhlas. Agar amal seorang hamba di terima di sisi Allah ta’ala maka ia harus beramal dengan ikhlas, terlepas dari kesyrikan. Dan ini adalah konsekwensi dari kalimat syahadat, Laa Ilaha Illallah. Menetapkan Hanya Allah saja untuk di ibadahi, dan meniadakan sesembahan – sesembahan lain selain Allah.

Ketiga, Mutaba’ah, yaitu sesuai dengan tuntunan Nabi. Agar sebuah amalan ibadah di terima di sisi Allah, maka hendaknya ibadah tersebut harus sesuai dengan tuntunan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bukan termasuk dalam amalan yang diada – adakan dalam agama yang tidak di ajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan ini adalah konsekwensi dari syahadat Muhammad Ar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rukun Ibadah

Selain harus memenuhi tiga syarat diatas, maka agar ibadah dan amalan sholeh kita di terima di sisi Allah ta’ala, maka kitapun harus memenuhi tiga rukun dalam Ibadah.

Tiga rukun tersebut adalah Al Mahhabbah (Cinta), Al Khouf (Takut) dan Ar Roja’ (Harap).

Seorang hamba beribadah kepada Rabbnya karena cinta kepada-Nya, takut terhadap siksa-Nya dan berharap pahala dari-Nya.

Karena itu sebagian salaf berkata, “Barangsiapa beribadah kepada Allah dengan cinta semata, maka ia zindiq. Barangsiapa beribadah kepada Allah dengan rasa takut semata, maka ia haruri (khawarij). Barangsiapa beribadah kepada Allah dengan rasa harap semata, maka ia Murji’. Dan barangsiapa yang beribadah kepada Allah dengan cinta, takut dan harap, maka ia adalah mukmin.” (Tahdzib Tashil Al Aqidah Al Islamiyah).

Ringkasan Poin Tujuan Hidup Manusia

Tujuan Hidup Manusia Ibadah
Tujuan Hidup Manusia Ibadah
Makna Ibadah
Makna Ibadah
Syarat Di Terimanya Amal
Syarat Di Terimanya Amal
Rukun - Rukun Ibadah
Rukun – Rukun Ibadah

Demikian, secara ringkas tigal hal penting berkaitan dengan untuk apa manusia di ciptakan di dunia ini. Yaitu berkaitan dengan makna ibadah, syarat di terimanya ibadah, dan rukun ibadah secara ringkas.

Semoga bermanfaat untuk kita semua. Aamiiin.

Medsos Rumah Belanja Muslim
Medsos Rumah Belanja Muslim

Tinggalkan Balasan