Untaian Nasehat Untuk Kita Yang Bermaksiat
Nasehat

Untaian Nasehat Untuk Kita Yang Bermaksiat

Posted On Oktober 14, 2016 at 1:16 pm by / No Comments

Untaian Nasehat Untuk Kita Yang Bermaksiat
Untaian Nasehat Untuk Kita Yang Bermaksiat

Keadaan Hati

Terkadang kita merasakan dalam hidup ini terasa hati itu lemah. Berbagai macam bisikan masuk kedalamnya. Bisikan baik maupun bisikan buruk. Ketika keadaan hati sedang kuat, keimanan pun menguat, maka kita mampu menepis ajakan tipu daya syaiton, ajakan syahwat yang menjerumuskan. Namun ketika keadaan hati sedang rapuh, lemah, keimanan mengendur, maka bisa jadi kita terjerumus dalam ajakan maksiat.

Maka butuh bagi hati-hati kita mendapat asupan energi. Sebagaimana tubuh yang lemah membutuhkan asupan nutrisi yang cukup. Maka begitu juga hati kita yang terasa lemah, maka membutuhkan asupan nasehat untuk memperkuat iman.

Perkara Yang Disenangi Syahwat

Terkadang kita merasakan ada ajakan-ajakan kepada perkara-perkara yang kita rasa itu menyenangkan syahwat. Berbagai macam ajakan itu meraya dan terus menyerbu hati kita untuk melakukannya. Hingga berbagai macam syubhatpun masuk ke dalam hati. Berbagai macam pembelaan untuk melegalkan kesenangan yang haram pun masuk mengotori hati.

Padahal jika kita sadar, bahwasannya Surga itu diliputi oleh hal-hal yang tidak disenangi, dan neraka itu diliputi oleh hal-hal yang menyenangkan syahwat, maka tentu kita akan berhenti darinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

“Surga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci (jiwa) dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat.” (HR. Muslim)

Ketika datang ajakan kepada kita untuk bersenang-senang dengan campur baur lawan jenis yang bukan mahrom. Ketika datang kesempatan kepada kita untuk berkholwat dengan lawan jenis yang bukan mahrom. Ketika mata mendapat kesempatan memandang yang haram. Dan ketika pandangan manusia jauh dari kita sementara peluang bermaksiat di depan mata.

Maka ingatlah perkara – perkara ini memang nikmat dengan ukuran syahwat. Namun ini dapat berujung kepahitan dan kepedihan yang lebih besar kelak di akhirat.

Dan ketika kita mampu menahan, mungkin terasa berat, dan tidak menyenangkan. Namun ini dapat berbuah pahala yang berujung bahagia di akhirat kelak.

Untaian Nasihat Pengawas Diri  

Ibnu Rojab rahimahullah berkata, “Seorang lelaki pernah merayu seorang wanita ditengah gurun pasir pada malam hari, tetapi sang wanita menolak. Lelaki tersebut pun berkata kepadanya, “Tidak ada yang melihat kita sekarang, melainkan bintang-bintang.” Si wanita pun berkata,

"lalu dimanakah yang menciptakan bintang-bintang tersebut?"

(Syarhu Kalimat Al-Ikhlas hlm. 49, cit Fiqh Asmaul Husna hlm. 218)

Allah ta’ala berfirman,

أَلَمۡ يَعۡلَم بِأَنَّ ٱللَّهَ يَرَىٰ

“Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?” (QS. Al-‘Alaq : 14)

Ibnu Rojab rahimahullah berkata, “Ada seorang laki-laki yang memaksa seorang wanita untuk berbuat kekejian dan memerintahkan kepada wanita tersebut untuk mengunci pintu-pintu. Kemudian orang laki-laki tersebut berkata, “Apakah masih ada pintu yang belum dikunci ?” Si wanita itu mengatakan,

Ya, ada, yaitu pintu antara kita dan Allah”.

Laki-laki tersebut pun tidak menyentuh si wanita tersebut. Sebagian orang melihat seorang berbicara dengan seorang wanita, maka orang tersebut mengatakan, “Sesungguhnya Allah melihat kalian berdua, semoga Allah menutupi (aurat) kami dan kalian berdua.” (Syarhu Kalimat Al-Ikhlas hlm. 49, cit Fiqh Asmaul Husna hlm. 224)

Allah ta’ala berfirman,

يَعلَمُ خائِنَةَ الأَعيُنِ وَما تُخفِي الصُّدورُ

Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS. Al-Ghofir : 19)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang makna ayat ini, “Allah ta’ala mengabarkan tentang Ilmu-Nya yang sempurna yang meliputi segala sesuatu, yang besar maupun yang kecil agar manusia berhati-hati dari pengawasan Allah terhadap mereka. Hingga mereka merasa malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya dan bertaqwa kepada-Nya dengan sesungguhnya, merasa selalu diawasi oleh Allah yang selalu melihatnya. Karena Allah ta’ala mengetahui mata yang khianat meskipun dzahirnya amanah. Dia mengetahui apa yang dirahasiakan oleh dada-dada mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir 7/127, cit idem)

Ketika Maksiat Itu Terasa Kecil

Maksiat terkadang terasa kecil dirasa. Ketika kondisi hati sedang redup dari cahaya iman, maka ajakan masiat itu terasa ringan. Maka ketika ini terjadi pada diri kita, hendaknya kita renungi sebuah perkataan ulama berikut,

لا تنظر إلى صغر الخطيئة ولكن انظر إلى عظم من عصيت

Janganlah engkau melihat pada kecilnya dosa / maksiat, Akan tetapi lihatlah pada agungnya siapa yang engkau maksiati (yaitu Allah Ta’ala).”

Maka jangan pernah anggap sebuah maksit itu kecil. Bisa jadi apa yang kita anggap kecil itu ternyata perkaranya sangat besar di sisi Allah.

Dan ingatlah, ketika kita bermaksiat, ketika kita mendahulukan ajakan syahwat dengan mengesampingkan larangan Allah. Maka ketika itu seolah-olah kita sedang menghamba kepada syahwat sehingga mengkesampingkan larangan Allah yang maha agung.

Ketika Mendapat Ujian

Dan sebagai nasehat bagi diri kita, yaitu ketika ujian menimpa kita. Ketika bencana menimpa kita. Bisa jadi itu semua adalah akibat dari perbuatan kita. Yaitu perbuatan maksiat yang sebelumnya kita kerjakan.

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuraa: 30)

Pernah suatu kali beliau (Asma` bintu Abu Bakr) mengalami sakit kepala yang sangat. Maka beliau meletakkan tangannya di atas kepala seraya berkata: “Ini karena dosaku. Dan ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat melimpah”. (Usudul Ghaabah Fii Ma’rifatish Shahaabah Ibnul Atsiir al-Jazari Daarul Fikri Cet. 1426, cit Almanhaj . Or.Id)

Maka ketika ujian itu datang, musibah itu menghampiri diri kita, keluarga kita. Maka mari perbanyak istigfar. Bisa jadi ujian dan musibah ini datang diakibatkan dosa – dosa kita yang telah lalu. Dan kita berharap dengan ujian / musibah ini dapat menjadi pelebur dosa kita.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kehawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Wallahu a’lam.

Abu Mumtazah
www.RumahBelanjaMuslim.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *