Sikap dan Kondisi Manusia Ketika Tertimpa MUSIBAH

Sikap Manusia Ketika Menghadapi Musibah

Sikap Manusia Ketika Menghadapi Musibah

Musibah adalah sebuah kejadian atau peristiwa yang menimpa seseorang atau sekelompok orang yang identik dengan kejadian yang menyedihkan dan tidak di sukai oleh jiwa.

Bagi seorang muslim, musibah itu tidak selalu berati keburukan. Walaupun kondisinya terlihat buruk bagi manusia. Tidak di sukai oleh jiwa. Namun terkadang ujian / cobaan yang menimpa itu bisa bermakna kebaikan.

Bukankah Allah ta’ala akan menguji hamba-Nya yang menyatakan beriman. Yaitu untuk membuktikan apakah benar keimanannya tersebut. Ataukah dusta.

Allah ta’ala berfirman,

“Alif Lam Mim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al Ankabut : 1 – 3)

Kadang musibah yang melanda itu bisa berupa ujian bagi seorang yang beriman. Yang dengan ujian ini ia semakin baik, semakin takut kepada Allah, semakin tinggi tingkat keimanannya.

Namun musibah bagi sebagian orang bisa berupa adzab yang Allah turunkan sebagai akibat dari maksiat yang mereka lakukan.

Sikap Manusia Saat Tertimpa Musibah

Saat tertima musibah, ada berbagai macam respon manusia dalam mensikapinya. Ada yang merespon dan mensikapinya dengan perkara – perkara yang baik. Dan banyak yang mensikapinya dengan perkara – peraka yang haram dan di larang Allah ta’ala.

Minimalnya, ada empat keadaan manusia ketika tertimpa musibah. Diantaranya,

  • Marah / Berkeluh Kesah

Adalah perkara yang di haramkan ketika tertimpa musibah adalah marah / berkeluh kesah terhadap ketetapan Allah yang telah menimpanya. Ia tidak ridho, kecewa yang dengan takdir Allah baik di dalam hatinya, di ucapkan dengan lisannya, atau bahkan di laksanakan dengan anggota badannya. Serperti mengumpat, merobek – robek pakaian, menampar nampar pipi dan lain sebagainya. Merupakan sebuah perkara yang di larang.

Bagaimana seseorang bisa marah dan tidak menerima ketetapan Allah ta’ala. Sementara Allah lah yang berkuasa atas langit dan bumi. Allah lah yang ketika ia berkehendak maka apapun akan terjadi. Dan tidak ada satupun yang dapat menghalanginya ?

  • Sabar 
Sabar Terhadap Musibah

Sabar Terhadap Musibah

Sabar terhadap musibah yang menimpa seorang Muslim hukum nya adalah WAJIB. Yaitu ketika seseorang tertima musibah, ia rasakan berat cobaan itu, namun ia memilih untuk Bersabar meskipun ia tidak menyukai ujian tersebut. Dan keimanannya menahan diri nya dari berbuat hal yang di haramkan Allah ta’ala.

Maka ketika tertima musibah, minimal nya seorang muslim bersabar, dan menahan diri dari perbuatan yang di haram kan Allah ta’ala. Ia jaga dirinya dari berkelah kesan, marah atau keceewa terhadap takdir Allah.

Dan sabar terhadap musibah yang menimpa itu adalah di awal kali musibah datang. Bukan setelah terjadi keluh kesah, kemarahan, lalu setelah itu ia bersabar karena tidak ada gunanya ia berkeleh kesah dan marah.

Karena yang di katakan sabar adalah di awal kali musibah datang. Bukan karena sudah tidak ada lagi jalan, tidak ada lagi daya dan upaya, atau tidak lagi ada tenaga lalu ia pun bersabar. Sementara di awal kali terjadi bencana telah ia lakukan hal hal yang di larang Allah.

Olah karena itu, hendaknya seorang muslim yang di timpa musibah, baik becana alam ataupun kesulitan lainnya. Hendaknya ia bersabar di awal kali terjadi bencana itu.

Hendaknya dia juga selalu ber khusnudzon kepada Allah terhadap apa yang telah terjadi. Karena pasti ada hikmah di balik semua apa yang terjadi di muka bumi ini. Dan semoga dengan ini, semakin memperbaiki keadaan kehidupan kita kelak di akhirat. Aamiiin.

  • Ridho
Ridho Terhadap Musibah

Ridho

Tingkatan yang lebih tinggi dari sabar, yaitu ridho terhadap musibah yang menimpa manusia. Ridho terhadap takdir Allah ini hukumnya adalah lebih afdhol / lebih utama.

Ridho terhadap ketetapan Allah ini bentuknya yaitu ketika musibah itu datang, maka sama saja baginya, apakah musibah ataupun nikmat Allah. Ia yakini semua itu datangnya dari Allah ta’ala. Tidak ada ganjalan di hatinya tentang ujian yang menimpanya.

  • Syukur
Syukur Atas Ketentuan Allah

Syukur Atas Ketentuan Allah

Tingkatan syukur seseorang ketika menerima musibah dari Allah ta’ala ini adalah tingkatan yang tertinggi. Yaitu ketika tertimpa ujian, cobaan, ia dapat bersyukur sebagaimana ia mendapat nikmat dari Allah. Ia meyakini hal tersebut datangnya dari Allah, dan semua itu menjadi kebaikan baginya.

Para Nabi dan Rasul adalah orang yang mampu bersyukur terhadap ujian yang menimpanya. Para Nabi dan Rasul adalah orang yang paling berat ujiannya. Namun mereka mampu bersyukur baik ketika mendapat nikmat ataupun ujian.

Penutup

Maka sebagai seorang muslim, dalam keadaan apapun. Apapun yang menimpa kita, seberat apapun ujian kita. Hendaknya minimal kita bisa bersabar menghadapinya. Yakinilah semua yang terjadi di lautan dan di daratan ini adalah kehendak Allah. Tidak ada yang mempu mencegah atau menghalanginya. Semua apa yang Allah kehendaki pasti akan terjadi.

Dan kita hanya di wajibkan bersabar atas apapun yang menimpa kita. Bisa jadi dengan ujian yang menimpa. Dapat menjadikan mengurangi dan meleburkan dosa – dosa kita. Sehingga kelak ketika kita menghadap kepada Rabb sang pecipta, dalam keadaan bersih tanpa doa.

Di akhir kata, semoga apa yang terjadi ini bisa menjadikan kebaikan bagi kita di dunia dan di akhirat. Dan semoga setiap kesedihan, air mata, kita dapat menjadi pelebur dosa kita. Dan kita berharap kelak dapat di kumpulkan di surga -Nya yang penuh kenikmatan. Yang tidak ada lagi kesedihan setelahnya.

Innahu waliyyu dzalika wal qodiru ‘alaihi.

Wallahu a’lam.

Abu Mumtazah

www.RumahBelanjaMuslim.Com

Tinggalkan Balasan